Doctor Strange in the Multiverse of Madness (2022)

Materi DOCTOR STRANGE yang amat kental dengan unsur supranatural memang seperti membuka portal bagi sutradara-sutradara yang biasa nanganin film tentang alam gaib untuk menyeret MCU masuk ke ranah horor, potensinya memang ke arah sana, tontonan superhero tapi dengan bumbu kegelapan, satu payunglah kayak “The Crow”, “Hellboy” dan “Blade”. Maka tidak heran apabila pada film perdananya DOCTOR STRANGE, Marvel kemudian merekrut Scott Derrickson, orang yang bertanggung jawab membuat gue jadi traumatik sampai sekarang berkat “Sinister” dan “The Exorcism of Emily Rose”. Hadirnya Scott jelas membawa “gangguan” ke dalam sinematik universe-nya Marvel, tidak hanya pada gaya penuturan ceritanya, yang paling nantinya kelihatan adalah keseluruhan tone dan visualnya, gelap-gelap gimana gitulah. Meski nga horor-horor banget, setidaknya DOCTOR STRANGE memberikan perbedaan yang unik dan menarik di antara pahlawan pembela kebenaran MCU lainnya yang telah beraksi duluan, sekaligus juga menegaskan kalau Marvel bisa keluar dari zona nyaman.

(more…)

KKN Di Desa Penari (2022)

Setelah tersimpan dalam gudang selama 2 tahun, ‘KKN Di Desa Penari’ yang tertunda tayang karena pandemi akhirnya resmi rilis di 2022 ini, dengan status sebagai summer movie-nya Indonesia, alias “film lebaran”. Untuk kembali mengangkat momentumnya yang sudah agak pudar, meski tidak sampai 100% menurunkan animo penonton untuk menyaksikan film yang diadaptasi dari kisah yang pernah viral di media sosial beberapa waktu silam ini. Maka untuk meng-hype-kan sekaligus mengajak orang-orang, terlebih mereka yang memang doyan horor untuk berbondong ke bioskop, dibuatlah strategi untuk menayangkan versi uncut atau bebas sensor, berharap ketertarikan untuk nonton ‘KKN Di Desa Penari’ akan makin menanjak naik. Sebuah gimik yang menurut gue tidak berpengaruh signifikan pada peningkatan kualitas berceritanya, ataupun mengubah penilaian serta pandangan gue yang sudah menonton duluan versi teatrikalnya, karena uncut atau bukan, horornya tetap jelek.

(more…)

Oma The Demonic (2022)

Film horor enggak seram itu lumrah, karena menurut gue yang namanya seram atau nga seram itu relatif, tergantung prespektif yang nonton. Mungkin buat orang lain, ‘Oma The Demonic’ terlihat menakutkan sampai bikin takut ke kamar mandi karena kebayang trus muka setannya. Sah saja, toh tiap orang kan punya primal fear-nya masing-masing serta pandangan yang tentunya berbeda tentang penampakan kaya apa yang pantas disebut seram, termasuk apabila bilang kemunculan sosok hantu gosong di ‘Oma The Demonic’ itu juga nyeremin, well gapapa banget. Gue disini enggak akan menghakimi selera horor orang lain kok, bebas mau merespon kayak gimanapun segala macam jumpscare di film yang dibintangi oleh Jajang C. Noer ini. Yah, lagipula gue sudah lelah meladeni film horor yang bergantung hanya pada penampakan, sebagai usaha serba instan untuk membuat penontonnya ketakutan, atau di ‘Oma The Demonic’ lebih tepatnya sih dikagetkan.

(more…)

RRR: Rise, Roar & Revolt (2022)

Menonton ‘RRR’ (Rise, Roar, Revolt) itu bagi gue adalah penebusan dosa karena tahun lalu enggak sempat menyaksikkan kegilaan bernama ‘Sooryavanshi’ di bioskop, meski pada akhirnya tayang di lapak streamingan ‘Tudum’ (maksudnya Netflix), tapi film kaya begini tuh dibuat untuk dinikmati seutuhnya bersama layar selebar mungkin dan suara speaker “all around you” yang menggelegar, bukan lewat televisi kecil dalam kamar. Jadi ‘RRR’ bisa dikatakan sebuah balas dendam yang akhirnya terbayarkan tuntas layaknya rindu si Ajo Kawir kepada Iteung. Beruntung dapat merasakan pengalaman sinema yang tiada duanya, sensasi yang sebetulnya agak sulit untuk diungkapkan kosakata manusia sekalipun. Untuk dibandingkan dengan film action yang pernah gue tonton, dari ‘Azrax’ hingga ‘The Raid’ akan terasa tidak adil, apa yang sudah diciptakan oleh Rajamouli lewat ‘RRR’ bisa gue bilang dengan lantang engga ada tandingannya, sebuah mahakarya yang menumbangkan semua film action di bumi.

(more…)

Menjelang Magrib (2022)

Sebagai orang yang mengaku menggemari film-film bergaya mokumenter atau found footage, munculnya “Menjelang Magrib” ini bisa dibilang menciptakan dilema berat, di satu sisi gue senang karena akhirnya daftar permokumenteran horor tanah air enggak hanya “Keramat” dan “Terekam”. 12 tahun gue harus menunggu bisa nonton film found footage karya anak bangsa lagi di bioskop. Tapi gue juga nga mau buru-buru langsung mencium kaki Helfi Kardit dan ngucap rasa terima kasih karena sudah memberikan gue hadiah “termanis” dalam bentuk horor moku yang gue tunggu-tunggu. Nyatanya manis berubah pahit begitu tersadar “Menjelang Magrib” di sisi lain juga adalah penghinaan terhadap penantian panjang gue selama ini, gue ngerasa kaya ada di adegan “Kung Fu Hustle” sewaktu Stephen Chow versi bocah dibully dan dikencingin ama anak-anak lain.

(more…)