Losmen Bu Broto (2021)

Setelah agak nyasar dibawa berputar-putar oleh gps yang rada error, gue akhirnya bisa sampai juga di tempat tujuan, ‘Losmen Bu Broto’ begitulah menurut tanda papan kayu yang terpampang di luar. Gue berencana menginap semalam saja, sebelum nantinya beranjak melanjutkan perjalanan. Gue nga akan pernah lupa perasaan itu, perasaan hangat begitu pertama kalinya menapakkan kaki di Losmen yang masih mau bertahan dengan gaya tradisionalnya tersebut, nga hanya dari tampilan bangunannya saja, tapi juga secara keseluruhan konsepnya, mulai dari baju yang dikenakan karyawan hingga cemilan dan makanan yang disajikan pada tamu-tamu yang datang. Gue disambut ramah oleh pegawai perempuannya yang memakai kebaya, sambil menyodorkan layar tab yang berisi informasi kamar yang ingin gue pesan. Beberapa menit kemudian gue sudah berada di kamar, semua tertata rapih dan bersih, tak sabar untuk langsung terjun ke kasur bersprei putihnya supaya badan ini bisa istirahat sebentar.

Read more

Maid (2021)

Terinspirasi dari sebuah kisah nyata, ‘Maid’ membuka kisahnya dengan adegan pelarian seorang perempuan di tengah malam, Alex (Margaret Qualley) memutuskan pergi dari rumah bersama anaknya, Maddy (Rylea Nevaeh Whittet), dari relationship yang nga sehat, dari kekangan lakinya yang kalau kata Abah mah si borokokok, si tukang mabuk-mabukan yang emosinya gampang meledak. Meski belum sampai kena pukul secara fisik, Alex yang sudah tersiksa lahir dan batin memilih kabur sebelum semua terlambat. Setelah luntang-lantung tanpa tempat tinggal, Alex akhirnya berlabuh di sebuah tempat penampungan para korban KDRT. Sambil berjuang terus hidup dengan bekerja sebagai pembantu rumah tangga, dari membersihkan rumah orang berlimpah harta sampai kediaman yang ditinggal mati pemiliknya, semua dikerjakan ikhlas demi lembaran dolar agar Maddy bisa makan.

Read more

Paranoia (2021)

‘Paranoia’ mengingatkan gue dengan ‘Pesantren Impian’ di 2016 silam, bukan dari ceritanya, itu jelas berbeda, tapi semata mata karena genre dan ekspektasi gue pada saat itu. Ada nama Ifa Isfansyah disana, wajar jika pada akhirnya gue berharap lebih dari film tersebut, karena Ifa bukan sembarang sutradara. Tapi hope hanyalah hope belaka, filmnya emang nga sepenuhnya disaster, tetap saja gue kecewa sekali, lebih kecewa ketimbang proyek Ifa sebelumnya ‘Pendekar Tongkat Emas’ yang sama-sama… (ah sudahlah).

Read more

Bisikan Jenazah (2021)

‘Bisikan Jenazah’ dengan brilian manfaatkan “minusnya” sebagai medium untuk menghibur, dan gue dengan ikhlas ngetawain karya Aldi Taher ini dari awal hingga endingnya yang epik. Film Indonesia yang bisa bikin gue ngakak lagi sampai keluar air mata semenjak Azrax.

Read more