Qodrat (2022)

Meskipun awalnya tampak memprihatinkan, sinema horor Indonesia tahun ini ternyata tidak sesuram yang gue bayangkan, apalagi setelah semester keduanya dibuka dengan kemunculan hantu kepala buntung ‘Ivanna’ yang begitu menyenangkan, lalu disusul film sekuel paling ditunggu sejagat meta fisika, yaitu ‘Pengabdi Setan 2: Communion’. Ngak berhenti sampai di Bunda Raminom, karena sehabis itu tayang ‘Jailangkung Sandekala’ yang anying dan ‘Inang’ yang membawakan jenis horor tanpa setan tetapi masih sukses bikin kita merinding. Senyum gue pun makin mengembang layaknya adonan donat yang dimasukkan ke dalam oven, tatkala sapaan salam dari Marsha Timothy yang kerasukan seperti menyambut para penggemar horor untuk kembali bersenang-senang bersama suguhan horor yang berbeda. ‘Qodrat’ yang digarap oleh Charles Gozali ini nantinya tak hanya akan terbalut unsur relijius yang bikin gue inget kata “tobat”, namun juga dioplos dengan adegan-adegan action yang hebat.

(more…)

Smile (2022)

Kalau pada 2014 silam ada ‘It Follows’ yang di balik bungkus horornya seperti kampanye terselubung soal bahaya pergaulan bebas dan penyakit kelamin. Nah, sekarang ‘Smile’ dapat giliran buat meningkatkan kesadaran penonton tentang kesehatan mental sambil nantinya menyelam ke kehidupannya Dokter Rose Cotter (diperankan Sosie Bacon) yang seketika berubah menjadi mimpi buruk. Tak hanya dihujami perasaan trauma semenjak pasien yang baru ditemuinya, Laura Weaver (Caitlin Stasey) melakukan bunuh diri tepat di depan mata kepalanya sendiri. Kejadian mengerikan tersebut pun kemudian disusul dengan berbagai gangguan gaib sekaligus penampakan menakutkan yang hanya bisa dirasakan dan dilihat oleh Rose. Dari hanya alarm rumah yang tiba-tiba berbunyi hingga orang-orang tersenyum aneh enggak wajar. Pertanyaannya adalah apakah semua nyata atau hanya ada di pikirannya Rose saja alias halusinasi belaka disebabkan kurang tidur?

(more…)

Inang (2022)

Dengan kekayaan sumber daya folklore dan kultur yang melimpah di Indonesia, memang sangat disayangkan ketika kebanyakan film horor Indonesia justru seperti mentok pakai cerita yang itu-itu saja, dengan konten yang variasinya sebatas mempertontonkan setan dan penampakan. Jadi, pada saat seorang Fajar Nugros muncul bersama “Inang”-nya, gue pun otomatis berdiri menyambut sambil menebarkan kembang tujuh rupa. Mukjizat adalah kata yang tepat untuk mewakili apa yang bakal dihadirkan oleh “Inang”, sebuah film horor yang tak sekedar berbeda karena mau mengangkat tradisi rabu wekasan, tapi juga bisa dibilang terlampau nekat “jualan” horor non hantu-hantuan di jaman dimana yang laris itu filmnya mesti ada genderuwo. Meski nantinya terdapat kekurangan disana sini, “Inang” menurut gue tetap patut untuk diberikan apresiasi yang tinggi atas jasanya membangkitkan lagi jenis horor tak populer.

(more…)

Jailangkung Sandekala (2022)

Meski Indonesia dapat dikatakan kaya akan sumber daya mistik serta keragaman wujud makhluk gaibnya, dari yang dibungkus kafan hingga berambut panjang, dari yang ukuran tubuhnya sebesar pepohonan sampai yang seukuran anak kecil sukanya mencuri uang. Sayangnya untuk urusan film horor, konsep dan temanya seperti hanya berputar-putar di formula yang kurang lebih sama dengan pola yang itu-itu saja. Kebanyakan bakalan bergantung pada penampakan setan demi menyeret penonton untuk ikutan ketakutan, dengan opening orang-orang yang pergi ke suatu desa atau pindah ke rumah baru yang visualnya pun kembar, ditampilkan dari atas memperlihatkan lanskap jalanan kiri kanan hutan rimba dan pegunungan. Wajah setan yang seram tentu saja atraksi utama dalam penceritaan, tanpa mau repot mengeksplor karakternya apalagi mitos atau legendanya. Di satu sisi gue seneng-seneng aja tiap ada film horor lokal mau tayang, masih berharap pengen ditakutin, tetapi di sisi lain gue juga mulai merasa jenuh gelap-gelapan muluk.

(more…)

Noktah Merah Perkawinan (2022)

Saya bukan penonton sinetronnya yang dulu dibintangi Cok Simbara sama Ayu Azhari ini, karena pada tahun itu, sekitar 1996 sampai 1998, kecuali nongkrongin kartun, saya lebih milih ngurung dalam kamar main gim konsol atau gambar komik isinya setan, tengkorak dan dinosaurus. Tapi sesekali kayaknya sih pernah ikutan nyimak kalau mamah sedang asyik nonton, jadi setidaknya saya termasuk yang (sedikit) terpapar oleh kisah huru hara rumah tangga antara Mas Priambodo serta Mbak Ambarwati ini. Versi bioskopnya alias layar lebarnya disutradarai Sabrina Rochelle Kalangie yang sebelumnya menggarap film ‘Terlalu Tampan’ di 2019 silam, pemerannya antara lain ada Oka Antara, Marsha Timothy dan Sheila Dara Aisha sebagai Yulinar. Well, dengan cerita sederhana seputar pelakoran beserta keributan-keributannya, sungguh diluar dugaan ‘Noktah Merah Perkawinan’ ternyata merupakan drama yang tak hanya punya skrip maknyus, namun juga hebatnya diarahkan dengan matang sekaligus serius.

(more…)