Korea emang sableng kalau sudah bikin film yang berorientasi pada kekerasan, berdarah-darah dan menyangkut-pautkan dengan balas dendam, seperti ‘The Wailing’ (2016) yang gila itu misalkan. Kesablengan tersebut kemudian diwariskan pada konten-konten serialnya, sebut saja terakhir ada ‘The Kingdom’ dan ‘Strangers From Hell’. Namun dibandingkan dengan kedua serial yang bisa disaksikan di layanan streaming Netflix tersebut, secara pribadi gue mantab bilang kalau ‘The Guest’ lebih bangsat sih ya, gue lebih menyukai serial yang aslinya ditayangkan pada tahun 2018 silam di Korea sana.

Premisnya mengingatkan gue sama serial ‘Outcast’ (2016) yang dimainkan sama Patrick Fugit (Almost Famous), dari segi tema tak jauh berbeda, membicarakan soal eksorsisme dan iblis, salah satu karakternya pun memiliki kesamaan, yakni punya bakat “spesial” setelah dulu pas masih bocah pernah kerasukan. Kalau boleh disimpulkan, ‘The Guest’ itu seperti ‘Outcast’ yang nongkrong bareng sama ‘The Wailing’ lalu diajak mabuk-mabukan sama ‘Rec 2’ (maafkan kalau analoginya agak norak). Tontonan yang bakal menantang nalar sekaligus mengusik keyakinan, serial yang daya pikat di tiap episodnya semakin meningkat dan terasa tak pernah kendor.

Permainan setan yang tahu bagaimana menjerat kita para pendosa untuk masuk jauh ke dalam lingkaran perangkapnya. Episod-episodnya tak sekedar hadirkan rasa ngeri yang ditampakkan secara visual saja, tapi juga ada kengerian tak kasat mata yang ditanamkan di kepala, bahwasanya manusia tidak lagi memerlukan setan untuk jadi jahat, ketika hatinya sudah tidak lagi mengenal yang namanya Tuhan. ‘The Guest’ memang akan banyak-banyak mengingatkan kalau iblis akan melakukan berbagai macam cara untuk memperdaya, menipu dan membohongi manusia demi tercapainya janji yang pernah mereka ucapkan kalau diusir dari surga dahulu.

Kita penonton bodoh hanya bisa menduga, berprasangka, menuduh, bahkan menghakimi, tapi kebenaran selalu bisa dipelintir oleh ‘The Guest’, penulis skripnya yang kesetanan mampu menciptakan penceritaan penuh intrik dan kejutan yang apik. Jalinan ceritanya yang menarik tersebut dibarengi oleh serangkaian horor yang bikinnya pun tidak tanggung-tanggung, baik itu secara konsep maupun teknikal, esekusinya efektif dalam mendatangkan atmosfer mencekam yang pada akhirnya menopang setiap adegan pengusiran iblis menjadi terlihat lebih menakutkan. Didukung akting amat meyakinkan dari mereka yang “dipaksa” berlakon kesurupan komplit pake acara muncrat-muncrat darah dan ludah, pokoknya dijamin “hiyyyyy” serem.

Kesampingkan segala horornya yang memikat, ‘The Guest’ juga mampu tampilkan karakter-karakter yang mengikat. Trio supir taksi yang kagak pernah nyetor, pastur muda yang mirip chef Juna (dikit) dan detektif perempuan dengan jiwa pemberontak, dicemplungkan dalam cerita nantinya tak hanya menyeret penontonnya masuk ke kubangan drama bercampur konflik, tapi juga sukses menggerakkan hati kita untuk peduli pada nasib mereka bertiga. ‘The Guest’ berhasil membuat karakternya disukai karena mereka diwujudkan sebagai manusia yang masih punya kelemahan, tak pernah sempurna dalam setiap tindakan, dan menariknya mereka saling melengkapi ketika disatukan, hingga akhirnya bisa melawan kelicikan setan bernama Park Il-do. Tanpa adanya chemistry yang kuat antara karakter utamanya, ‘The Guest’ mungkin hanya akan jadi serial horor brutal yang biasa-biasa saja, ketiga karakternya sukses menjadikannya istimewa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s