The Medium (2021)

Siapalah yang menyangka kalau sutradara Shutter dan The Wailing bakalan berkolaborasi membuat film horor, kemunculan The Medium tuh tidak disangka-sangka, kayak waktu Ace Ventura dipertemukan dengan grup band death metal asal Florida sana, Cannibal Corpse. Kemunculannya tentu saja mengagetkan sekaligus juga layak disambut dengan gegap gempita, khususnya oleh mereka yang mengaku penggemar horor. Film yang disutradarai oleh Banjong Pisanthanakun dan diproduseri Na Hong-jin ini pun semakin membuat kepala gue berasap, persis seperti Murni sewaktu sedang belajar ilmu hitam dengan Gendon si dukun teluh, karena tahu format filmnya akan disajikan dalam bentuk mokumenter.

Sekitar separuh durasinya, The Medium akan tampak seperti kalau lo ngeliat dokumenter bikinan National Geographic lalu dikawinkan dengan gaya laporan investigasi ala Vice. Penceritaannya berfokus pada praktik perdukunan di salah satu Kabupaten (sebut saja demikian, hahaha) di Thailand sana, kita nantinya tidak hanya dikenalkan oleh orang-orang yang terlibat langsung dengan kegiatan penuh klenik dan mistik tersebut, lewat proses wawancara yang lengkap dan mendalam, tapi juga dibukakan wawasan yang seluas-luasnya mengenai pernak-pernik budaya dan mitologinya, termasuk segala macam ritual yang berhubungan erat dengan praktik dukun ini.

Di babak awal ini, Banjong boleh dibilang sengaja ngasih kita waktu untuk menyerap aneka informasi yang dijejalkan dalam penceritaan. Sambil menikmati pemandangan alam pedesaan yang indah namun menyimpan banyak misteri ini. Kita diberi momen untuk “bernafas” mempelajari praktik perdukunan yang benar-benar tampil meyakinkan dan dikemas semenarik mungkin. Hingga nantinya kita bakal diseret paksa masuk pada babak horor yang sebenarnya, ketika ada seorang perempuan yang diyakini sudah kerasukan roh jahat. Bersamaan dengan perubahan cerita, berubah pula gaya pengambilan gambarnya, dari yang tenang jadi mulai goyang-goyang ala rekaman di film-film found footage kebanyakan. Tentu saja, buat gue goyangan tersebut memang sengaja diterapkan oleh Banjong, fungsinya agar kita bisa ikut merasakan eksperiens yang real sekaligus juga membuat penonton diserang ketidaknyamanan, jadi bukan goyang sembarangan.

Menonton The Medium, spontan bikin inget dengan film-film mokumenter atau found footage kegemaran gue, karena emang Banjong seperti “meminjam” dengan penuh respek elemen dan referensi dari mulai Lake Mungo sampai Paranormal Activity, dari The Blair Witch Project bahkan hingga Keramat. Perpaduan elemen tersebut tak saja membuat penyampaian kengerian jadi semakin efektif, tapi juga menambah variasi yang menarik pada gaya bagaimana The Medium nantinya divisualisasikan, tidak terkesan monoton membosankan namun terasa dinamis.

Separuh sisa durasi The Medium benar-benar oleh Banjong dimanfaatkan dengan bijaksana untuk membuat penonton tidak saja dihantui stres yang berkepanjangan, tapi juga menyerah ketakutan hingga enggak berkutik di kursi bioskop, termasuk gue. Seperti proses kerasukan yang diungkap secara bertahap, kengerian di The Medium juga tidak langsung diobral, tetapi ditampilkan dalam berbagai tingkatan, yah kayak level pedes yang biasa ada di tukang ayam geprek atau seblak. Perempuan yang katanya kerasukan nantinya tidak tiba-tiba melayang ataupun kayang, Banjong tahu bagaimana menciptakan tahapan kesurupan roh jahat yang enggak sekedar perlahan-lahan bikin nyali menciut-mengkerut kayak jeruk yang kelamaan disimpan dalam kulkas, kesurupan itu juga dibuat meyakinkan banget lewat berbagai gejala yang ditampilkan, dari tingkatan aneh yang “oh, iya si Mink kayaknya beneran kesurupan” (merespon dengan santuy), hingga menanjak ke tingkatan “anjing! ini mah setan yang ngerasuk ke Regan juga bakal pulang kampung ke neraka, anjing!”.

Yup, The Medium emang semengerikan itu buat gue. Keanjingan film ini tidak akan lengkap tanpa dukungan pemain yang memerankan karakter mereka dengan kegilaan yang sederajat sesinting filmnya. Khususnya, pemeran Mink yang kayaknya sama Banjong beneran sengaja dibuat keserupan. Dari mulai raut wajah dan mimiknya yang tampak sangat meyakinkan, hingga aksi akrobatik menjadi mirip binatang yang mengerikan. Aktingnya sama sekali tidak waras dan diluar nalar, bikin tiap kemunculan Mink memaksa gue untuk merapal doa pengusir setan yang gue hafal, tapi segala macam doa kayaknya mah percuma tidak akan mempan. Karakter Nim yang diceritakan adalah seorang dukun juga tak kalah real-nya, sejak awal dialah yang bertanggung jawab membuat gue percaya semua omong kosongnya emang betulan kejadian. Segala Ritual yang dipraktikan pun jadi terlihat makin nyata berkat penampilan apiknya sebagai dukun yang dirasuk makhluk setara dewa yang dinamakan Bayan.

Gue tidak sedang mengada-ngada saat menyebut The Medium adalah tontonan menakutkan yang bikin gue hampir ikut kehilangan kewarasan. Kolaborasi Banjong dan Na Hong-jin ini sukses membuat gue diam untuk waktu yang cukup lama setelah filmnya selesai, masih berusaha memahami apa yang sebenarnya terjadi, sambil mengembalikan kesadaran gue yang memudar. Barulah setelah mengambil air wudhu dan solat Dzuhur, gue bisa agak tenang setelah mental dan pikiran dihajar habis-habisan, kayak dijedotin ke dinding sampai kepala ini terasa mau pecah. Meski hanya sebagai produser, gue tidak bisa pungkiri kalau The Medium serasa seperti The Wailing cabangnya Thailand, sentuhan jahanam Na Hong-jin amat kerasa dimana-mana, termasuk saat babak penghabisan yang membuat gue sempat tidak percaya jika Tuhan itu ada, gue hampir saja dibuat murtad oleh The Medium. Bangsat banget film ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s