Terinspirasi dari sebuah kisah nyata, ‘Maid’ membuka kisahnya dengan adegan pelarian seorang perempuan di tengah malam, Alex (Margaret Qualley) memutuskan pergi dari rumah bersama anaknya, Maddy (Rylea Nevaeh Whittet), dari relationship yang nga sehat, dari kekangan lakinya yang kalau kata Abah mah si borokokok, si tukang mabuk-mabukan yang emosinya gampang meledak. Meski belum sampai kena pukul secara fisik, Alex yang sudah tersiksa lahir dan batin memilih kabur sebelum semua terlambat. Setelah luntang-lantung tanpa tempat tinggal, Alex akhirnya berlabuh di sebuah tempat penampungan para korban KDRT. Sambil berjuang terus hidup dengan bekerja sebagai pembantu rumah tangga, dari membersihkan rumah orang berlimpah harta sampai kediaman yang ditinggal mati pemiliknya, semua dikerjakan ikhlas demi lembaran dolar agar Maddy bisa makan.

Karena ini serial, meski limited alias engga banyak episodnya, ‘Maid’ nantinya mampu memanfaatkan durasinya yang tak sesempit film untuk berbagi banyak cerita, curhatan dan juga pelajaran berharga soal kerasnya kehidupan. Tak hanya melulu menyorot aksi survival Alex dari hari ke hari, menggosok toilet kotor atau mengosongkan isi kulkas yang busuk, kita juga diajak berinteraksi dengan orang-orang di sekeliling Alex, dari orang tua hingga majikan, dari mereka yang menolong tanpa pamrih sampai mereka yang memberi pertolongan karena ternyata emang ada maunya. Sambil berkeluh kesah tentang nga diupah 37 dolar atau ngebayar belanjaan supermarket pakai voucher sakti khusus orang miskin, kesepuluh episode di ‘Maid’ tahu bagaimana membacakan kisah Alex agar terdengar jujur sekaligus terlihat realistis, itulah mengapa serial ini gampang memikat sejak episode pertamanya.

Mungkin kalau ‘Maid’ adalah sinetron yang tayang di televisi lokal, gue percaya bakal ada ribuan kemalangan yang ditimpakan ke Alex, dari ketabrak tukang ojek yang ngebut di jalan hingga kehilangan ingatan setelah sebelumnya tersesat di hutan. Untungnya, ‘Maid’ jauh dari khayalan ngawur tersebut, ini kisah perjuangan seorang perempuan yang tidak mengeksploitasi keapesan dan tanpa menjual tangisan. Yah, nantinya Alex memang dicemplungkan ke dalam beragam situasi tak mengenakan: tidur di dermaga, bayar bensin kurang 3 dolar, kesulitan cari pekerjaan, hingga kecelakaan. Tapi semua berimbang, tidak melulu badai yang bikin daya tarik justru tumbang, sebaliknya dari apes ke apes itulah ‘Maid’ ingin penonton melihat kenyataan, hidup memang tidak seterusnya manis, adakalanya harus ada pahit. Shit happen, cuma ‘Maid’ sekali lagi ingin kita melihat perlawanan Alex, engga hanya dengan taiknya hidup tapi juga ke orang-orang yang buang taik ke mukanya.

Selain tentang perjuangan dan perlawanan, ‘Maid’ tentu saja soal manusianya, Alex ini hanyalah manusia biasa yang dibenturkan dengan kemalangan, dia engga melulu bisa strong untuk fight, kita juga jadi saksi saat dia tak berdaya. Alex mampu membuat gue bersimpati, tapi juga ada momen dimana gue bisa sangat jengkel dengan sikapnya dan ingin lari ke film lain lalu stop nonton ‘Maid’. Gue kemudian tersadar, tiap episod ternyata tidak hanya karakter-karakternya saja yang diperlakukan sebagai manusia. Bahkan lakinya Alex yang 100 persen eshol itu terkadang bisa kelihatan “eh kok orang ini bisa baik juga”. Seperti Alex dan karakter di sekelilingnya, kita penontonnya ternyata juga diperlakukan layaknya manusia, serial ini mengerti penontonnya punya perasaan dan tahu bagaimana membuat kita terseret untuk ikut merasakan penderitaan Alex, ikut rasain walau sebentar ada di posisinya.

Kata Om Chrisye, badai pasti berlalu. ‘Maid’ bukan tontonan “bencana” terjangan angin kemalangan, pertunjukkan utamanya tetap untuk ngasih lihat gimana cara Alex yang makan shin ramyun berkuah bening ini pada akhirnya mampu menemukan kebahagiaan dan survive dari badai tersebut. Yah, diluar sana ada yang lebih apes dari Alex, tapi ini bukan soal berlomba siapa yang hidupnya lebih menderita. Gue melihat ‘Maid’ adalah tentang manusia yang tak menyerah pada nasibnya, manusia yang dengan segenap tenaga berusaha mati-matian untuk bisa melewati cobaan. Buat gue ‘Maid’ bukan hanya pencerahaan akan dampak violence fisik maupun verbal, tapi juga pengingat kalau Tuhan kasih sebuah ujian juga melihat kemampuan hamba-Nya, mereka yang lulus akan mendapat ganjaran yang setimpal. Begitupun Alex, dia berhak untuk mendapat kebahagiaan setelah melalui segala macam ketidakenakan, dan gue juga berhak untuk menyantap shin ramyun dengan hati damai penuh dengan kehangatan. Shoop! Shoop!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s