Setelah agak nyasar dibawa berputar-putar oleh gps yang rada error, gue akhirnya bisa sampai juga di tempat tujuan, ‘Losmen Bu Broto’ begitulah menurut tanda papan kayu yang terpampang di luar. Gue berencana menginap semalam saja, sebelum nantinya beranjak melanjutkan perjalanan. Gue nga akan pernah lupa perasaan itu, perasaan hangat begitu pertama kalinya menapakkan kaki di Losmen yang masih mau bertahan dengan gaya tradisionalnya tersebut, nga hanya dari tampilan bangunannya saja, tapi juga secara keseluruhan konsepnya, mulai dari baju yang dikenakan karyawan hingga cemilan dan makanan yang disajikan pada tamu-tamu yang datang. Gue disambut ramah oleh pegawai perempuannya yang memakai kebaya, sambil menyodorkan layar tab yang berisi informasi kamar yang ingin gue pesan. Beberapa menit kemudian gue sudah berada di kamar, semua tertata rapih dan bersih, tak sabar untuk langsung terjun ke kasur bersprei putihnya supaya badan ini bisa istirahat sebentar.

Rencana merem sebentar ternyata bablas sampai dua setengah jam, itupun terbangun oleh bau masakan yang langsung otomatis membuat perut kosong seperti lagu anak jaman dulu itu. Indra penciuman gue ini emang paling sensitif sama bau makanan, dan ternyata letak kamar posisinya tidak jauh dari dapur. Melompatlah gue dari kasur, setelah bersih-bersih lanjut keliling melihat kehidupan Losmen. Tamunya ramai, termasuk ada sekelompok wisatawan dari Jepang yang hendak siap-siap mau tur, ditemani Tarjo (Baskara Mahendra) anak bungsu pemilik Losmen. Oh iya, tujuan gue pertama adalah dapur yang dikepalai oleh Mbak Pur (Putri Marino), setelah kepo sana sini, gue dapat info dari Mas Atmo (Erick Estrada), pegawai Losmen yang paling serba bisa, bisa macam bahasa, termasuk Bali dan Jepang, bisa ngelawak, kocaklah pokoknya. Katanya Mas Atmo, Mbak Pur ini pernah kehilangan orang yang dicintainya, trus sampai sekarang belum bisa move on dari dukanya, sudah setahun. Padahal yah orangnya dulunya ceria dan selalu senyum, tetapi sejak saat itu jadi berubah, sampai ada tamu yang komen negatif di aplikasi travel tentang Losmen ini karena Mbak Pur judes katanya. Oalah kesian Mbak Pur.

Baru beberapa jam saja, tapi anehnya gue merasa seperti penghuni yang sudah lama menginap di ‘Losmen Bu Broto’. Kayak lagi di rumah, begitu nyaman, apalagi makanan yang disuguhkan, gue sempet nyobain soto duduk bareng bapak-bapak tua yang kalau nga salah katanya sih sedang menunggu istrinya, anyway sotonya enak banget top markotop kalau katanya Mas Karyo, jadi kangen masakan Mamah. Sudah nyaman, masakannya manteb pisan, eh penghuni Losmen pun ramahnya bukan main, ada sih Ibu-Ibu yang jutek sedang nyariin anaknya, tapi mostly semua baik sekali, termasuk si pemilik Losmen ini, Ibu dan Pak Broto yang selalu melempar senyum setiap kali gue berpaspasan dengan mereka. Jadi makin kerasan, sayangnya gue hanya menginap satu malam doang, mau nambah hari eh nga bisa karena semua kamar sudah keduluan di-booking oleh tamu dari Bali. Gue hanya bisa gigit jari, menyesal kenapa engga dari awal pesan kamar untuk dua atau tiga malam, atau bahkan seminggu.

Malam di ‘Losmen Bu Broto’ makin terasa syahdu, gue duduk di pojokan ruangan makan yang kala itu berhias ornamen gaya Jepang, sengaja untuk menyambut tamu dari negeri sakura. Biasanya sambil makan kita akan dihibur oleh musik keroncong, tapi kata Mas Atmo ada problem jadi digantikan oleh anak kedua pemilik Losmen, namanya Sri, yang ternyata jago bernyanyi dan main gitar. Suara merdunya menemani suap demi suap santap malam gue, tapi maaf kok gue lupa makan apa yah waktu itu, gara-gara terlena dengan Jeng Sri tampaknya hahaha. Sebelum kembali ke kamar, gue sempatkan puas-puasin keliling Losmen, yang malah bikin jadi tambah engga rela besok sudah harus check out. Gue habiskan sisa waktu malam itu mengobrol dengan Mas Atmo, dari percakapan santai ini pun gue jadi tahu lebih banyak tentang keluarga Broto. Bapak yang bijak, Ibu yang prinsipnya keras, Mbak Pur yang galak, Sri yang pemberontak dan Tarjo yang paling santuy. Sebuah keluarga yang isinya lengkap, ada yang coba sembuh dari kehilangan, ada yang selalu memancing keributan, tapi satu sama lain saling sayang meski jarang diucapkan.

‘Losmen Bu Broto’ ini Losmen idaman, gue kayak bukan tamu disini, walau menginap sebentar, gue merasa jadi bagian keluarga Broto. Saat Mas Atmo bercerita tentang Mbak Pur, gue pun ikut hancur. Sewaktu nga sengaja gue menguping Sri yang dimarahi, gue entah kenapa ikutan sedih dalam hati. Konfliknya dan situasi yang relate dengan kenangan pribadi, bikin gue semakin serasa lagi di rumah sendiri. Pengalaman menginap yang begitu mengesankan, engga hanya karena servisnya yang memuaskan, tetapi juga rasa kekeluargaan yang merangkul gue dengan hangat selama ada disini. Senang bisa bertemu orang-orang yang tidak pelit senyum, termasuk Mas Atmo yang mukanya kok mirip sama tukang becak di film ‘Yowis Ben’, kocak banget dia. Mungkin lebay, tapi setiap jengkal Losmen sungguh berarti, gue bakal kangen banget sama aroma masakan yang tercium dari dapurnya. Gue bakalan rindu sekali kehangatan Losmen istimewa ini. Sehabis check out, sambil berdiri di luar, gue ngomong sendiri layaknya sinetron kita, kapan-kapan gue akan kembali lagi kesini, karena gue belum nyobain masakan ikan asam kecombrang yang legendaris itu. Apik tenan pokoknya ‘Losmen Bu Broto’ ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s