Vengeance Is Mine, All Others Pay Cash (2021)

Sinema Indonesia butuh lebih banyak film berisi karakter perempuan yang nuntaskan dendam dengan meriah sekaligus berdarah layaknya karakter Iteung dan Marlina. Meski hanya berupa tontonan berdurasi sekian jam, tapi ada pelampiasan kemurkaan yang terwakilkan oleh parang ataupun pulpen mereka. Layaknya ‘Marlina’ buatan Mouly Surya, ‘Seperti Dendam’ ini seperti menuangkan kemarahan gue yang sudah mendidih dalam kepala ke wadah bernama cinema. Kemarahan yang berkerak dari rasa tak berdaya ketika melihat atau membaca berita soal pemerkosaan dan kekerasan seksual. Film ‘Seperti Dendam’ dengan tepat mengekspresikan apa yang sudah lama ingin gue lakukan kepada para pelakunya. Menggantung mereka di tiang sangkar burung atau sekedar menjepitkan anunya ke pintu lemari hingga terpisahkan dari kantung berkulit yang berisikan dua biji.

‘Seperti Dendam’ yang diadaptasi dari novel karangan Eka Kurniawan ini nantinya tidak hanya banyak omong soal bagaimana cara melunasi dendam tapi juga unjuk kebolehan dalam menggaet perhatian penonton untuk terkesima memandang kisah cicil mencicil kerinduan antara Iteung (Ladya Cheryl) dan Ajo Kawir (Marthino Lio). Jangan bayangkan mereka dipertemukan oleh aplikasi kencan daring karena seting waktunya berada pada masa Ratu Ilmu Hitam sedang berkuasa, iya tahun 80-an. Faktanya, Ajo dan Iteung yang jago banting orang ini malahan ditakdirkan bertemu di tempat semacam tambang yang panas dan berdebu, berhias alat berat dan truk yang tak henti lalu lalang. Mereka tidak saja saling pandang dan kejar-kejaran kaya adegan Kasino dan Elvy Sukaesih di film “Mana Tahan” (1979), tapi juga saling hajar menghajar dengan berbagai jurus andalan macam duel maut Cecep Arif Rahman vs. Iko Uwais di “Berandal” (2014).

Dari adegan tarung tangan kosong yang berakhir dengan Ajo Kawir si begundal Bojong Soang yang melemparkan sobekan kuping ke Iteung, gue sadar itu merupakan peringatan jika “Seperti Dendam” bukan tontonan yang akan mudah dicerna dengan sekali kunyahan. Ini bukan lagi Edwin yang gue lihat di “Posesif” (2017) atau “Aruna dan Lidahnya” (2018). Cara bertuturnya tak akan selurus dua film tersebut, apalagi ini adalah terjemahan dari tulisan Eka, gue memang belum baca buku sumber adaptasinya, tapi sudah pernah menyantap “Lelaki Harimau” jadi setidaknya punya sedikit pengalaman menjelajahi dunia Eka. Baca bukunya saja kadang harus bolak-balik halaman untuk bisa memahami maksudnya (atau guenya aja yang lemot kali ya), apalagi ini berduet dengan imajinasi Edwin, makin dahsyatlah presentasi “Seperti Dendam” ini.

“Bangsat, norak banget!!” Kalimat pertama yang keluar dari mulut gue begitu melihat Ajo Kawir adu kejantanan bermodal motor racing rakitan, lomba ngebut siapa cepat mengambil botol yang harusnya dijadikan cabang bertanding official setiap rayakan tujuh belasan, selain panjat pinang serta makan kerupuk. Tapi “bangsat” tersebut konteksnya tentu saja dalam artian memuja kenorakannya, pendekatan nyeleneh Edwin yang nantinya membungkus keseluruhan durasi “Seperti Dendam”. Filmnya memang dimaksudkan untuk jadi senorak-noraknya, termasuk dialog kaku dan interaksi karakter kikuk yang menyempurnakan narasi serta dandanan visualnya yang sejak awal punya nafsu menggebu-gebu mengeksploitasi era delapan puluhan. Gambar-gambar nostaljik yang mengingatkan gue dengan film-film di masa lalu, Ajo Kawir dan Iteung itu layaknya Ramadan dan Ramona di “Kejarlah Daku Kau Kutangkap” (1986), tetapi dalam versi dangdutan yang bisa dibilang lebih ekstrim.

Dari jogetan Iteung yang taik banget hingga balapan truk yang keseruannya numbangin franchise “Fast and Furious”, dari dendam yang dituntaskan dengan kejam sekaligus sadis sampai kisah asmara lelaki tak bisa ngaceng dengan cewek jagoan madefaker badass yang romantis. “Seperti Dendam” memiliki caranya tersendiri untuk menghibur mata, telinga, serta perasaan penontonnya, meski terkadang terbungkus kemasannya yang abnormal, tak logis dan absurd. Gue menyukai keliarannya dalam menceritakan kerinduan, aksi Iteung melunasi dendamnya pun mengesankan, berdampingan dengan soundtrack yang bikin kepala headbanging dan pinggul bergoyang. Standing ovation setiap kali melihat Ladya Cheryl bayarkan dendam, aksinya menumpas lelaki jahanam patut dipestakan tujuh hari tujuh malam.

Bagian yang paling menyenangkan “Seperti Dendam” buat gue personal memang saat Iteung menumpahkan darah, tetapi enggak semua yang dijejalkan Edwin kemudian bisa gue nikmati dengan mudah. Kalau memang adegan “begituannya” dimaksudkan untuk bikin tidak nyaman, berarti sutradara “Babi Buta Yang Ingin Terbang” ini sudah berhasil bikin gue seratus persen enggak nyaman. Namun, ketidaknyamanan gue tersebut tak serta merta auto melabeli keseluruhan film jadi terhina. “Seperti Dendam” tetap sudah ngasih gue eksperiens sinematik yang unik sekaligus juga menggelitik, bergandengan dengan gairah visual 80-an yang nostaljik, enerjik dan juga epik. Apalagi isu kekerasan seksual dan toksik maskulinitas yang amat relevan bikin “Seperti Dendam” jadi makin menarik. Tontonan yang sepatutnya kita lestarikan dengan menontonnya selagi ada, karena film kayak begini langka, belum tentu tiap setahun sekali muncul yang serupa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s