Yuni (2021)

Beberapa waktu lalu gue menonton film asal India, judulnya “Skater Girl”, tentang pemberontakan seorang gadis kampung demi kebebasan dan impiannya bersama papan seluncur tak hancur oleh kekangan rantai tradisi, yang nempatin perempuan hanya akan berakhir di dapur, sumur dan juga kasur. Sekali lagi sinema dijadikan medium untuk meneriakkan perlawanan, mewakili suara mereka yang “terlakban”. “Yuni” pun adalah karya gambar bergerak atas nama perlawanan, mengisahkan cewek penggemar warna ungu yang ingin melambung jauh terbang tinggi bersama mimpi, tapi terhempas oleh kenyataan dan tersungkur kembali ke daratan. Lewat film ini Kamila Andini seperti ingin menegaskan sulitnya hidup sebagai perempuan, sambil mengingatkan kita yang tidak mengalami, khususnya kaum lelaki, untuk lebih peduli.

“Yuni” tidak ingin memaksa penontonnya untuk mengerti rasanya menjadi seperti karakter yang diperankan oleh Arawinda Kirana, atau merasa sok tahu bagaimana sedihnya jadi Sarah (Risma Wulandari) saat nantinya dibenturkan pada konflik menikah karena terpaksa. Tapi setidaknya ketika kita menonton ada mamang-mamang beristri datang untuk melamar Yuni dengan bawa uang 25 jeti, kita bisa serentak berteriak “bangsat!” berjamaah dalam bioskop. Lalu, sekali lagi teriak “bangsat!” saat dia bilang bakal kasih tambahan apabila Yuni masih perawan. Beruntunglah kalian yang berhasil dibuat kesal ataupun murka dengan adegan itu, tanda kepala dan hatinya masih waras. Maunya film ini memang membuat kita yang bayar karcis tak sekedar membeli tontonan, tetapi juga diberikan pengalaman enggak nyaman bercampur aduk dengan rasa tak berdaya dan gelisah berkepanjangan.

Enggak nyaman waktu melihat ada cowok tetangga depan rumah yang sekonyong konyong datang segambreng barengan sama keluarganya, katanya mau melamar, padahal baru kenal sekali pas Yuni antarkan kue. Tak berdaya ketika menyaksikkan Yuni yang masih ingin melanjutkan sekolah dan freedom abis harus dibebani wacana nikah muda, menolak lamaran artinya menolak rezeki, apalagi sampai dua kali, apa kata orang nanti. Sepanjang durasi tak ada habis dihujani kegelisahan bertubi-tubi, seperti sedang berhadapan dengan film horor tapi bukan dihantui arwah gentayangan yang mukanya ngeri, melainkan kecemasan akan bagaimana nasib Yuni, teman-teman geng sekolahnya, termasuk juga kepada Teteh Suci Cute (Asmara Abigail), yang tanpa disadari menyeret perasaan gue sebagai manusia biasa yang masih punya hati ikut bergejolak, tersiksa lahir maupun batin.

“Yuni” adalah sebuah test yang menguji apa hati kita ini masih berfungsi dengan benar untuk diajak berempati. Kemampuan untuk memahami perasaan orang lain yang makin hari kian jarang dimiliki, seringkali hilang dan mungkin saja sebentar lagi bakalan punah. Entah dilupakan atau memang sama sekali tidak punya, mau itu saat ada kecelakaan, lalu memilih untuk menyebarkan foto-foto korban, atau ketika ada pemberitaan soal kekerasan seksual terhadap perempuan, korban yang justru disikat habis dihakimi dengan tetek bengek aurat, kutipan ayat dan dilabeli moralnya bejat. Bahkan pas di lokasi bencana kok bisa-bisanya swafoto tanpa memikirkan orang-orang yang sudah kehilangan harta benda sekaligus nyawa. Kemanakah empati kalian? tertinggalkah di dapur? atau seperti cincin kawinnya Nyak Rodiyah yang kecemplung ke dalam sumur? atau barangkali terdampar di kolong kasur?

Jangan pernah biarin orang bilang kamu ngak boleh bersuara. Mereka ngak pernah tahu rasanya benar-benar kehilangan suara. Percakapan depan pintu toilet klub malam antara Yuni dan Mamak-Mamak Rocker yang dilakoni Ayu Laksmi (Pengabdi Setan) tersebut sukses memberi gebukan yang menyakitkan. Interaksi yang kembali mengisyaratkan bahwasanya “Yuni” emang sedang ingin mengajak mengobrol tentang kesakitan dan keinginan, kepada siapapun yang hatinya masih mau mendengarkan. Meski pembicaraan tersebut kadangkala hadir dalam bahasa metafora dan simbol, bukan berarti Kamila ingin lawan bicaranya, yaitu penonton, menjadi linglung. Pemilihan “kosakata” bersinema “berkode-kode” itu justru membuat “Yuni” tampak universal. Kita sekali lagi tidak akan dituntut mengerti semuanya, tapi diberikan kebebasan untuk menterjemahkan dan menyerap maksudnya sesuai kemampuan serta dari aneka sudut pandang. Membiarkan penonton “freedom abis” untuk akrab dengan kepedihan Yuni dengan cara ternyamannya masing-masing.

Meski pedih, “Yuni” bukanlah pertunjukkan yang akan mengeksploitasi kesusahan dan penderitaan. Adegan mengobrol seorang anak wadon dengan bapaknya di lantai teras rumah sambil memotong kuku adalah kehangatan sinema. Sederhana tapi begitu mengena, seperti keseluruhan presentasi film yang mewakili Indonesia ke Oscar ini. Potret sederhana tentang perlawanan demi freedom abis dari kekangan dapur, sumur dan kasur. Satukan kegelisahan, kepedihan sekaligus kehangatan dalam sebuah karya sinematik penuh kritik yang amazing pisan. Tontonan yang akan meninggalkan kesan mendalam, sosok Yuni tak sekedar karakter yang ditulis menakjubkan, tapi juga punya misi membawakan pesan yang bakal bikin kita kepikiran pas lagi rebahan, melupakan sebentar pusing karena belum bayar cicilan. Film yang hebat, menurut gue “Yuni” adalah film Indonesia terbaik tahun ini, jadi yuk kita nonton biar “Yuni” bisa lama nongkrong dan tidak buru-buru terusir dari bioskop.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s