Don’t Look Up (2021)

Umat manusia diceritakan bakalan musnah akibat tubrukan komet seukuran gunung bukanlah kali pertama dimunculkan dalam premis sebuah tontonan. “Deep Impact” dan “Armageddon” sudah berhadapan lebih dulu dengan planet killer tersebut di tahun 90-an, bahkan tahun lalu ada film berjudul “Greenland” yang dibintangi Gerard Butler, berurusan dengan bongkahan batu dari luar angkasa yang juga sama-sama mau ancurin Bumi dan seisinya. Meski sumber bencana di “Don’t Look Up” serupa, dengan strategi penyelamatan yang terasa familiar, tingkat keseriusannya jelas berada di koridor yang berbeda. Ada nama orang gila tercantum sebagai pembuatnya, orang tak waras yang juga mengarahkan film-film sableng macam “Step Brothers”, “Talladega Nights: The Ballad of Ricky Bobby”, “The Other Guys” dan tentunya yang terlejen: “Anchorman: The Legend of Ron Burgundy”.

Tenang, “Don’t Look Up” tidak akan seberat presentasi “The Big Short” yang diramaikan oleh teori rumit, perhitungan pelik dan juga aneka istilah asing dalam dunia saham dan finansial. Gue menyukai film yang dilakoni Christian Bale sebagai pakar ilmu keuangan yang juga anak bulungan alias metalhead tersebut, tapi harus diakui emang bikin gue serasa balik ke bangku universitas, pusing yang sama kayak ada di kelas algoritma dan pemrograman. Walau bagian science dan hitung-hitungan kadang membuat otak ciut sesaat, itu hanyalah usaha “Don’t Look Up” biar kelihatan sok rumit di balik penceritaan yang misi sesungguhnya adalah menyindir dan mengolok-olok faktapnya kita, spesies penghuni bumi bernama manusia. Anggap seperti menonton “Deep Impact” tapi versi alternate universe berisikan kekonyolan dan banyolan ala Adam McKay. Yup filmnya akan ngocol namun pesannya sebetulnya serius.

Pernah melihat gambar di sosial media yang bertuliskan nada menyinyir “every disaster movie starts with the goverment ignoring a scientist”, nah “Don’t Look Up” nantinya akan berisikan beragam olok-olok tentang ketidakpedulian tersebut. Tak hanya yang ditujukan langsung pada mereka so called pemerintah, tapi hampir ke semua orang, termasuk para tech billionaire yang diwakili oleh karakter Peter Isherwell (Mark Rylance) seorang CEO dari perusahaan teknologi bernama BASH. Keresahan Adam McKay terhadap pejabat keparat yang seringkali bertindak tak bijak, atau orang-orang yang lebih percaya bulsyitan teori konspirasi dari sumber tidak jelas, tampaknya ditumpahkan dalam drama satir berlatar pra-apokaliptik yang menggelitik, lengkap dengan segala candaan idiotik yang menegaskan kembali ungkapan “gajah di pelupuk mata tidak tampak, semut di seberang lautan tampak.”

Tanpa ada komet segede gaban pun, dunia sudah diprediksi bakal hancur kok, tinggal menunggu waktu saja omongan para pakar yang selalu diabaikan tentang perubahan iklim itu beneran kejadian. Padahal buktinya sudah kelihatan dimana-mana, seperti pola cuaca yang sekarang semakin ekstrim, tapi lucunya berita atau dokumenter berkonten global warming seringkali justru kalah oleh hoax yang bertebaran. Jangankan warning soal pemanasan global yang seperti gajah di pelupuk mata itu, dihimbau pakai masker aja susahnya minta ampun, bagaimana mau pandemi ini cepat berakhir. Pakar percuma berkoar, seperti karakter J-Law yang malah jadi bahan cemoohan manusia kayak Jonah Hill yang sangat bangsat. “Don’t Look Up” relevan dengan kondisi nyata di lapangan, bisa dibilang merangkum kekacauan dunia dan manusianya dalam bentuk tontonan goblok-goblokan berdurasi 2 setengah jam.

Dari politik sampai korporasi media, semua kena giliran disemprot oleh Adam McKay. “Don’t Look Up” adalah protes keras yang terselubung via ocehan-ocehan menyentil tanpa pandang bulu yang dilontarkan oleh karakter-karakternya, termasuk Jennifer Lawrence yang melakoni ilmuwan muda bermulut pedas level maksimum. Tektokan J-Law dengan Jonah Hill tidak sekedar jadi hiburan adu mulut yang bangsat, layaknya pertandingan gulat hardcore ala ECW dulu, brutal menghantam dengan julidan maut ke orang-orang bebal dan ignorant. Beragam celotehan beserta candaan gobloknya juga dimaksudkan sebagai medium pelampiasan kefrustasian dalam bentuk dialog provokatif yang menyadarkan bahwa ketidakpedulian merupakan bencana yang sesungguhnya. Jadi “komet” hanyalah untuk gaya-gayaan atas nama entertainment, agar “Don’t Look Up” tetap bisa dikatakan disaster movie.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s