Makmum 2 (2021)

Di balik penampakan setan berulang lusinan kali yang sebenarnya memuakkan, ternyata ‘Makmum 2’ menyembunyikan pesan positif untuk jangan merusak hutan, mengingatkan gue dengan band eco-metal asal Perancis bernama GOJIRA, yang selalu menyusupkan tema lingkungan hidup dalam tiap lantunan kecadasannya. Gue mengapresiasi langkah tersebut, karena jarang sekali film Indonesia apalagi horor yang durasinya habis oleh aksi jumpscare, mau repot-repot memasukkan kepedulian terhadap lingkungan ke dalam skripnya. Well, setidaknya ada sisi baik yang bisa gue ingat selama duduk di bangku E8, selain berdoa mengharap ‘Makmum 2’ mau mengakhiri penceritaannya yang menyiksa. Meski sedikit lebih baik dari predesesornya yang mengenaskan, sekuel ini tetaplah eco horror yang gagal melaksanakan misinya untuk memberikan ketakutan, mengulang kesalahan serupa yang sudah ribuan kali dilakukan oleh kebanyakan film horor lokal.

Dari Hadrah Daeng Ratu, tongkat estafet penyutradaraan sekuel ‘Makmum’ diberikan kepada Guntur Soehardjanto, sebelumnya mengarahkan ‘Lampor: Keranda Terbang’. Sutradara spesialis film drama, khususnya yang mengandung unsur kerelijian tersebut memang harus diakui membuat ‘Makmum 2’ terlihat punya peningkatan bercerita, meski tidak signifikan berpengaruh pada kualitas keseluruhan filmnya, terutama ketika tiba waktunya untuk mempresentasikan horor dan segala penampakannya yang tampak memalukan. Padahal ‘Makmum 2’ menurut gue sudah berada di jalur yang tepat saat menyeret penontonnya ke tempat antah berantah, sebuah desa yang tak sekedar terisolasi dari peradaban modern, tapi juga diseting untuk memiliki nuansa mistik yang menarik. Pokoknya lokasi yang cocok untuk bermain setan-setanan, belum ada listrik, tak ada sinyal dan punya “Hutan Larangan” yang dijamin angker banyak penunggunya.

Tapi tentu saja dusun terpencil yang tampak menyeramkan saja enggak bakalan cukup, film horor tak bisa hanya bergantung pada satu elemen, apalagi ketika lokasi potensial tersebut sialnya malah seperti dianggurkan, atmosfer mistikal dan mencekamnya tidak pernah benar-benar dimanfaatkan dengan maksimal. “Hutan Larangan” yang mestinya bisa menjadi pusat penyebaran kengerian malahan terkesan buat pajangan bermodal pohon besar tua yang engga ada gunanya. Sayang sekali mitosnya hanyalah omong kosong yang sesekali disebutkan di dalam dialog, tanpa ingin mengeksplor horornya agar penonton bisa kena mental sekaligus menciutkan nyali sebelum penampakannya dimunculkan. Seperti yang dilakukan film dengan latar hutan belantara macam ‘Roh’ dari Malaysia, ‘The Ritual’ dan ‘The Witch’, ketiganya mestinya bisa dijadikan semacam “contekan” gimana membuat horor yang menyeramkan hanya dari atmosfernya saja.

‘Makmum 2’ sepertinya memang tak punya waktu untuk basa-basi, belum ada 5 menit penonton sudah disodorkan penampakan, komplit dengan latar belakang bebunyian berisik banget. Gue bukanlah orang yang anti jumpscare, hanya benci aja ketika ada film horor yang memperlakukan jumpscare asal-asalan. Jumpscare tuh kesannya buruk sekarang, padahal horor sama jumpscare saling membutuhkan, jika dibuat benar bisa bermanfaat ke tujuannya memberikan rasa takut, takut yang bukan sekedar kejut asal kasih efek suara bikin kuping berdarah dan jembrengin muka hantu selayar ribuan kali. Pada akhirnya jumpscare terbilang efektif bikin takut bukan karena ada setan dengan wajah hancur yang mengagetkan numpang lewat sesaat, tapi bagaimana pembuat film bisa mempermainkan ekspektasi penonton dan memberi “kejutan” di saat yang tepat. Bukan justru banyak-banyakan jumpscare tapi dimunculkan di sembarang tempat.

Gue beruntung menonton ‘Makmum 2’ pas bersama penonton yang tepat, alhasil tak terlalu “suram” amat, karena terhibur bukan oleh filmnya, tapi malahan oleh keramaian penonton lain di kursi belakang gue yang merespon setiap setan bermukena muncul dengan beragam kerusuhan, dari meledek temannya yang takut hingga teriak bareng ketika dedemitnya berhasil mengagetkan. Guntur Soeharjanto memang gagal dalam menghadirkan tontonan horor yang layak untuk ditakutkan, tetapi kegagalannya di ‘Makmum 2’ justru menjadikannya seperti Anakin Skywalker yang menyeimbangkan kembali force di ‘Star Wars’. Layaknya kehidupan yang ada manis-manisnya dan adakalanya terasa pahit, Guntur bisa dibilang penjaga keseimbangan sinema Indonesia, dengan merilis barengan dua film yang dia sutradarai di akhir tahun 2021 ini, yang satu manis, nah ‘Makmum 2’ kita giliran kebagian pahitnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s