Scream (2022)

Masih ingat enggak kapan pertama kalinya nonton ‘Scream’ original? Jawabannya pasti bakal bermacam-macam nih, mungkin ada yang di bioskop (beruntungnya orang yang bisa nonton ‘Scream’ pertama di layar lebar ya, karena pada jaman itu gue masih terlalu ingusan buat kenal yang namanya bioskop, lagian duit jajan gue abis buat beli layangan kaya Atun). Mungkin juga ada yang nonton bertahun-tahun kemudian setelah filmnya rilis via format VCD, DVD, atau bahkan lewat laserdisc (anak sekarang tahu LD enggak yah hahahaha). Seinget gue dengan memori samar-samar, ‘Scream’ versi 1996 itu baru sempat nonton beberapa tahun kemudian ketika home video-nya sudah beredar dan disewakan di tempat-tempat penyewaan vcd dan laserdics pada waktu itu. Karena di rumah adanya pemutar LD, jadi kunjungan gue ke toko sewa movie yang berlokasi di depan gang enggak jauh dari rumah pun berujung dengan bawa film ‘Scream’ dalam bentuk cakram segede gaban hahahaha.

‘Scream’ (1996) bisa dikatakan fenomenal, kesuksesannya tak hanya dari sisi finansial dengan raihan angka box office 170 sekian juta dolar dari bujetnya yang hanya belasan juta, secara kritik pun, film slasher garapan almarhum Wes Craven ini direspon positif. Tak heran jika kemudian ‘Scream’ berlanjut hingga sekuel ke-3 yang rilis di tahun 2011, sekaligus mempelopori era slasher modern dengan bermunculannya judul-judul kayak: ‘I Know What You Did Last Summer’ (1997) dan ‘Urban Legend’ (1998). Namun uniknya ‘Scream’ dalam menyajikan film horor yang ngomongin film horor di dalam penceritaan memang sulit untuk dikalahkan pesaingnya. Apalagi keunikannya juga dibarengi dengan elemen dalam filmnya yang kemudian jadi ikonik, dari tokoh utama Sidney, Dewey dan Gale ibarat Luke, Leila dan Han Solo di ‘Star Wars’, hingga sang pembunuh berkostum Halloween yang layak sepanggung dengan seniornya seperti Leatherface, Jason dan Michael Myers. Bahkan nama kota fiksinya pun, Woodsboro itu sulit untuk dilupakan.

Sekarang, setelah dua dekade lebih sejak adegan Ghostface menghujamkan pisaunya ke Drew Barrymore, kita diperkenalkan lagi dengan ‘Scream’ yang baru. Diarahkan oleh Matt Bettinelli-Olpin dan Tyler Gillett yang sebelumnya menggarap ‘Ready or Not’ di tahun 2019, ‘Scream’ kali ini bukan sekedar sekuel untuk mereka yang memang tumbuh bersama keseluruhan franchise-nya, tetapi juga untuk penonton generasi jaman now berlabel “Z” yang tidak mengenal siapa itu Billy Loomis. Bisa dibilang ‘Scream’ adalah sebuah undangan pesta untuk merayakan kecintaan kita terhadap genre horor, mau itu horor “elevated” macam keluaran A24 kayak ‘The Witch’ dan ‘Hereditary’, ataupun slasher jadul seperti ‘The Texas Chain Saw Massacre’ dan ‘Halloween’. Apapun horor favoritnya, bahkan jika ditelpon Ghostface dengan pertanyaan “What’s your favourite scary movie?” lalu menjawab ‘Whisper of the Dead’ alias ‘Bisikan Jenazah’ (nunjuk ke diri sendiri), pokoknya semua bakalan dapat undangan selama statusnya fans horor.

Di-treatment sebagai sebuah tribut untuk produk originalnya sekaligus penghormatan bagi Wes Craven, pola esekusinya ‘Scream’ memang diniatkan untuk mematuhi aturan yang keluar dari mulut Sidney Prescott di film keempat. “Don’t f*ck with the original!” benar-benar dijadikan pedoman oleh Matt dan Tyler dalam mengarahkan versi anyar ‘Scream’ ini, selain juga berpegangan pada formula yang sudah dibuat oleh Wes. Mulai dari dibuka dengan adegan telpon-telponan antara Ghostface dan korban perdananya, hingga bagaimana nanti karakternya saling berinteraksi, termasuk adu debat soal film horor sekaligus bacotan yang berisi olokan, yang sekarang menargetkan pada toksiknya kefanatikan yang radikal terhadap tontonan. Jadi jika kemudian ‘Scream’ terlihat seperti pengulangan versi 1996, karena memang itu tujuannya, menyomot apa yang pernah ada, khususnya dari film pertama, lalu di-refresh dengan karakter berbeda dan disandingkan bersama elemen modern sekaligus kekinian.

Meskipun tak segokil film dulunya sewaktu Neve Campbell masih berusia 22 tahun, tapi ‘Scream’ generasi baru ini setidaknya ada di jalur yang benar sebagai penjaga keseruan slasher sekaligus kemurnian film ‘Scream’ itu sendiri, dengan enggak melenceng dari aturan-aturan keramatnya, termasuk pada bagian yang punya peranan ngeledekin dan menyindir. Diberikan kehormatan menerima legacy dari Wes Craven, Matt dan Tyler tak hanya mampu menghormati balik warisan tersebut dengan gaya mereka sendiri, tapi juga bisa mengajak penonton buat kembali bersenang-senang di Woodsboro. Suguhan slasher meta yang menyenangkan berisikan ceceran aksi sayat yang nikmat dan momen tikam yang jahanam. Horor whodunit yang bikin gue gembira, berlumur adegan bunuh yang rusuh serta gambar bersimbah darah yang meriah. ‘Scream’ membuktikan bahwa filmnya bukan hanya bisa ngebacot, tetapi mampu ngasih contoh bagaimana buat horor slasher yang seru, lucu dan juga asu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s