All of Us Are Dead (2022)

Berlokasi di sekolah SMA bernama Hyosan, ‘All of Us Are Dead’ nantinya akan mengikuti resep film/series bergenre serupa, dari satu gigitan berujung kekacauan. Seperti ‘Train to Busan’ tapi dengan bumbu cerita remaja yang sumber infeksinya berasal dari virus bernama Jonas, hasil eksperimen pak guru sains yang tampangnya sekilas mirip serial killer. Virus tersebut nantinya tanpa sengaja pindah dari seekor tikus ke inang baru yakni tubuh siswi tidak berdosa. Maka dimulailah efek domino, dari satu gigitan ke aksi gigit menggigit lainnya, dari siswi terinfeksi yang dibawa ke UKS lalu menulari dokternya dan berujung zombie outbreak. Malapetaka tak hanya terjadi di sekolah tapi penularan virus yang mengubah manusia jadi mayat hidup agresif doyan lari dan makan usus terburai ini bakal diceritakan menyebar ke seluruh penjuru kota. Tapi fokus ‘All of Us Are Dead’ nantinya akan lebih banyak menyorot aksi di sekolah, melihat bagaimana sekelompok murid yang berhasil selamat mencari cara untuk terus bisa bertahan hidup.

‘All of Us Are Dead’ punya banyak kelebihan dalam menyajikan adegan-adegan survival yang melibatkan sekawanan zombie kepala benyek, diantara sempilan dramanya yang boleh dikatakan menyek. Apalagi bagi gue yang nga demen dengan bagian dramanya, suguhan aksi menghindari gigitan zombie yang keagresifannya mengingatkan dengan orang-orang yang terinfeksi “virus rage” di ’28 Days Later’ ini memang menjadi modal gue untuk pada akhirnya tertarik menonton dan menghabiskan 12 episodenya dalam 3 hari. Selain logo yang berubah pecah jadi lautan zombie di pembuka episodnya, gue menyukai bagaimana kreatifnya ‘All of Us Are Dead’ dalam urusan hadirkan adegan yang bertujuan menimbulkan ketegangan. Nga sekedar asal kacau dan brutal, tetapi juga dipikirkan betul variasi adegan beserta detilnya agar nantinya setiap episodnya tak terkesan monoton dan membosankan.

Dari outbreak di awal episodnya yang kasih kita pertunjukkan meriah zombie-zombie berjatuhan dari jendela, hingga adegan mau mengambil selang air pemadam kebakaran pake tangan boneka toko di episod 2. Dari lompat-lompatan bikin perpustakaan jadi berantakan di episod 5, sampai adegan gila kabur dari ruangan kelas musik di episod berapanya gue lupa haha. Adegan-adegan tersebut tidak sekedar menginjeksi dosis ketegangan yang bikin nafas terasa ikutan ngos-ngosan dan jantung otomatis menjadi berdetak lebih kencang, tapi juga dirancang sedemikian menggila agar daya tarik ‘All of Us Are Dead’ terus menaik, sekaligus bikin penontonnya terus penasaran bakalan ada adegan seru apalagi di episod selanjutnya. Ketika bagian drama-dramaannya buat gue terasa menyiksa, untungnya penderitaan itu terbayarkan oleh adegan-adegan bertahan hidup yang membuat gue kembali bersorak sorai gembira berteriak “bangsat! bangsat!” di depan layar TV. Memuaskan pokoknya.

Gue bukan seorang yang begitu anti-drakor sampai menyebut drama di ‘All of Us Are Dead’ menyiksa. Jangan salah, gue adalah penonton drama Korea, dari yang berbentuk thriller kriminal seperti ‘Beyond Evil’ hingga yang berbalut horor supranatural seperti ‘The Guest’. Dari yang bersetting kantoran macam ‘Misaeng’ dan ‘My Mister’ sampai yang berlatar rumah sakit kayak ‘Hospital Playlist’ atau background-nya penjara, menunjuk ‘Prison Playbook’. Gue menyukai judul-judul drakor tersebut, termasuk juga ‘Reply 1988’ dan ‘Dear My Friends’ (dua ini bagus banget). Sedangkan di ‘All of Us Are Dead’ pendekatan dramanya bisa dibilang berseberangan dengan selera, alasannya sesederhana karena ketidakcocokan saja. Terlalu banyak drama keributan dan konflik dibuat-buat yang sengaja dipelihara agar umur episodnya bisa lebih dipanjangkan.

Ketimbang meributkan hal sepele, alangkah bijaknya apabila durasi ‘All of Us Are Dead’ dipakai untuk memaksimalkan ketegangan lewat aksi-aksi survival-nya yang menurut gue masih kurang mengenyangkan. Asupan drama memang diperlukan, tak saja berikan waktu bagi karakternya untuk mendekatkan diri dengan penontonnya, tapi juga ngasih ruang supaya konfliknya bisa berkembang. Sayangnya, drama yang bertele-tele serta terkadang menjengkelkan malah membuat gue tidak peduli dengan orang-orang yang selamat, berharap mereka semua mati aja supaya cocok dengan judulnya ‘ALL OF US ARE DEAD’. Meski tidak menyukai banyak hal, harus gue akuin ‘All of Us Are Dead’ ini tetaplah menyenangkan dibalik kekurangan. Didukung oleh seting yang meyakinkan dan tata produksi yang juga enggak main-main, setiap episodnya masih bisa menghadirkan keseruan yang diramaikan kebrutalan serta adegan-adegan berdarah-darah yang wow.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s