KKN Di Desa Penari (2022)

Setelah tersimpan dalam gudang selama 2 tahun, ‘KKN Di Desa Penari’ yang tertunda tayang karena pandemi akhirnya resmi rilis di 2022 ini, dengan status sebagai summer movie-nya Indonesia, alias “film lebaran”. Untuk kembali mengangkat momentumnya yang sudah agak pudar, meski tidak sampai 100% menurunkan animo penonton untuk menyaksikan film yang diadaptasi dari kisah yang pernah viral di media sosial beberapa waktu silam ini. Maka untuk meng-hype-kan sekaligus mengajak orang-orang, terlebih mereka yang memang doyan horor untuk berbondong ke bioskop, dibuatlah strategi untuk menayangkan versi uncut atau bebas sensor, berharap ketertarikan untuk nonton ‘KKN Di Desa Penari’ akan makin menanjak naik. Sebuah gimik yang menurut gue tidak berpengaruh signifikan pada peningkatan kualitas berceritanya, ataupun mengubah penilaian serta pandangan gue yang sudah menonton duluan versi teatrikalnya, karena uncut atau bukan, horornya tetap jelek.

Gue termasuk yang berharap ‘KKN Di Desa Penari’ bakal jadi “penyelamat” perhororan tanah air yang sedang darurat film dedemit sehat. Setelah mental dan akal dihancurkan oleh ‘Teluh’, ‘Iblis Dalam Kandungan, ‘Oma The Demonic’, dan ‘ Makmum 2’, wajar dong apabila gue mengandalkan film garapannya Awi Suryadi (Badoet, Asih) ini untuk balikin lagi harga diri horor lokal, walaupun enggak sepenuhnya yakin, apalagi kalau mengingat betapa tak konsistennya kualitas horor dari sutradara ‘Sunyi’ ini. Well, setelah selama 2 jam duduk di bioskop dengan kebanyakan memasang wajah manyun, gue bisa bilang ketakutan gue ternyata terbukti benar, tapi bukan karena ‘KKN Di Desa Penari’ berhasil menakut-nakuti, yang mana adalah harapan gue untuk film yang dibintangi Tissa Biani (The Returning) ini. Sebaliknya, takut kalau gue pada akhirnya bakal dikecewakan untuk kesekian kalinya di saat credit menggulung.

Meski gue sudah pernah membaca sumber adaptasinya, di review ini gue nga bakalan membanding-bandingkan dengan produk filmnya, lagipula kayaknya gue pun sudah lupa sebagian besar isi cuitan si simpleman tersebut, jadi gue hanya akan fokus pada hasil interpretasi Awi dan bagaimana dirinya membangun keseramannya di ‘KKN Di Desa Penari’. Sejak awal gue menginjakkan kaki di desa terpencil jauh dari peradaban modern yang dikepalai oleh Kiki Narendra ini, sudah terlihat jika ‘KKN Di Desa Penari’ bukanlah horor murah, produksinya bisa dibilang tak main-main, dari teknik visual hingga seting lokasinya yang meyakinkan. Iya, menjanjikan dan memiliki potensi yang besar untuk bisa menghasilkan tontonan horor yang serem serem sedap, apabila mampu manfaatkan segala aset dan sumber daya kengeriannya untuk menghadirkan adegan-adegan yang tak sekedar bergantung pada penampakan, tapi juga mampu memaksimalkan atmosfer enggak menyenangkan dari desa penari ini.

Alangkah bijak jika judulnya diubah menjadi ‘Setan-Setan di Desa Penari’, karena sedari awal Nur dan teman-teman mahasiswa ini sudah ditunggu oleh antrian makhluk tidak kasat mata yang akan ngeganggu mereka. Bahkan di hari pertama, berak aja beloman udah disambut sama genderuwo bermata merah menyala, yang entah kenapa ingetin gue sama film Apichatpong Weerasethakul yakni ‘Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives’. Jadi kata “KKN” tersebut udah kagak relevan lagi digunakan sebagai judul di film yang dibintangi juga oleh si Aghniny Haque ini, karena lebih dari separuh durasi nanti gue akan jarang sekali melihat adegan yang berkaitan dengan kuliah kerja nyata, cuma ada dua adegan barangkali kalau nga salah ingat. Prioritas ‘KKN Di Desa Penari’ adalah sebanyak-banyaknya mengagetkan penonton dengan parade jump scare yang melelahkan, jadi engga ada waktu develop cerita apalagi buat introduksi karakternya.

Satu setengah jam semestinya bisa dipakai untuk memperkenalkan kita tak saja dengan karakter-karakternya, tetapi juga mengajak penonton untuk jalan-jalan berkeliling untuk mendalami aneka mitos yang melekat pada tiap sudut desa. Fiuh, buat apa repot-repot bercerita, film horor yah yang penting harus dominan sama penampakan dan kerasukan, jadi persetan dengan storytelling. Lagipula penonton tidak butuh yang namanya cerita, adegan-adegannya lompat macam sketsa yang nga saling berkorelasi pun bodo amat. Sekali lagi yang diutamakan penampakan, kalau semua penghuni alam gaibnya sudah dimunculkan, barulah giliran semua elemen non setannya dicemplungkan paksa di sisa 30 menit menuju ending. Mari tak habiskan waktu buat review ‘KKN Di Desa Penari’ ini, terlepas dari bungkusnya yang mahal, dari visual hingga produksi, isinya tetaplah tak ada bedanya dengan film-film horor busuk yang sudah duluan tayang. Mengecewakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s