The Doll 3 (2022)

Sudah mau pertengahan tahun, tapi belom ada satupun horor lokal yang bener-bener memuaskan dahaga gue yang haus dengan tontonan setan-setanan menyegarkan dan menakutkan. Bicara kuantitas, kita memang bisa dibilang tidak pernah kekurangan stok film horor, dalam sebulan minimal bakal ada 1 atau 2 penghuni alam gaib yang “mampir” terus nangkring di jadwal “sedang tayang” bioskop. Hingga akhir Mei saja, jika enggak salah hitung jumlahnya sudah 10 film horor, termasuk yang sempat gue tonton seperti: ‘Teluh’, ‘Iblis Dalam Kandungan’, Menjelang Magrib’, ‘Oma The Demonic’, ‘KKN di Desa Penari’ dan ‘The Doll 3’ yang sekarang akan gue review. Meskipun berhamburan aneka setan, dari yang berwujud mirip sonic paska terdampak ledakan gas 3 kilogram, hingga siluman ular yang lihai menggoda sekaligus berjoget, secara kualitas penceritaan serta konstruksi penampakan, film-film tersebut menurut gue berstatus memprihatinkan.

Menengok sebentar ke belakang, franchise boneka iblis yang memulai terornya di 2016 silam ini memang selalu gagal memberikan rasa takut yang maksimal ataupun sekedar menghadirkan horor yang menyenangkan. ‘The Doll’ pertama misalnya alih-alih nutup mata malah tak tahan mau ketawa melihat barisan penampakan repetitif menggelikan dan akting yang amat jauh dari meyakinkan, walaupun dengan upaya keras Shandy Aulia peragakan aksi “moshing” berulang-ulang di lantai. Datangnya Luna Maya di ‘The Doll’ kedua jelas membawa pengaruh signifikan ke dalam departemen akting. Meski masih ngawur tapi ngak sehancur predesesornya, terdapat peningkatan dari sisi penceritaan, teror-meneror sekaligus menakut-nakuti. Sayangnya di ‘Sabrina’ kualitas horornya tak lagi bisa diharapkan, kembali terasa kecut dan nihil bikin takut, adanya Luna Maya pun hanya menolong sedikit agar daya tariknya tak makin menciut, terutama saat berakting kerasukan anak iblis berwajah semrawut.

Waralaba horor boneka kerasukan roh jahat yang sejak awal sudah terlihat problematik, kemudian berlanjut ke ‘The Doll 3’, dengan premis yang enggak perlu repot-repot mikir tinggal comot dari seri sebelumnya. Luna Maya yang dulu kehilangan anak, sekarang digantikan oleh Jessica Mila yang ditinggal adik laki-lakinya, lalu melakukan perjanjian gaib dengan dukun agar arwahnya pindah ke boneka pintar bernama Bobby. Alih-alih mendapatkan kedamaian bisa komunikasi lagi dengan sang adik, kehidupan Jessica Mila dan orang-orang terdekatnya justru berubah jadi mimpi buruk, setelah roh jahat menumpang di boneka mahal yang mampu berteriak “motherfucker” tersebut. Niat aja emang nga cukup, upaya ‘The Doll 3’ untuk terlihat lebih baik dari pendahulunya terasa malas-malasan. Menghadirkan animatronik untuk menggerakkan “Bobby” satu-satunya yang layak diapresiasi, sisanya kalau boleh jujur hanya bikin gue mengernyitkan dahi.

Bagaikan ingin buru-buru memamerkan apa yang bisa dilakukan oleh Bobby, ‘The Doll 3’ kemudian menumbalkan karakter-karakter manusianya, termasuk keberadaan Jessica Mila sebagai tokoh sentral yang dikenalkan seadanya tanpa membuat kita lebih peduli atau bahkan simpati dengan tragedi serta kemalangan yang nantinya ditimpakan pada dirinya. Sudah diberikan durasi seuprit buat memperkenalkan karakternya, ‘The Doll 3’ juga memperlakukannya nga seperti orang dari semesta yang sama dengan penonton. Di universe karangannya Rocky Soraya, para manusianya ditampilkan pasrah, jangankan karakter utamanya yang minim perlawanan, dukun sakti yang gue pikir bakalan jual-beli bacokan dengan Bobby dan polisi yang gue sangka juga akan tembak-tembakan sama boneka setan ini, ternyata dibuat sebegitu mudahnya tewas. Badarawuhi pun kayaknya enggak mampu kalau disuruh mengalahkan boneka Bobby yang luar biasa overpower.

Padahal ‘The Doll 3’ bisa dikatakan memiliki karakter manusia berkekuatan super dalam wujud Winky Wiryawan, kecepatan sembuh dari lukanya mirip dengan Logan Wolverine, dan susah mati pula kaya John McClane di ‘Die Hard’. Mungkin seharusnya karakter ini dapat dijadikan jagoan untuk menghantam dan membalas setiap kali Bobby menyerang atau bahkan menantang duel sampai mati. Namun itu semua tidak terjadi di ‘The Doll 3’ karena film produksi Hitmaker Studios ini justru menjadikan Bobby sakti mandraguna, tak tertandingi oleh siapapun sekaligus bisa pindah tempat secepat kilat, walaupun saat disorot kamera geraknya selamban keong. Entah Bobby ini punya ojek langganan atau punya ilmu teleportasi kayak di Naruto dan Dragonball. Pertanyaannya sekarang adalah Bobby itu kerasukan arwah siapa? Kalaupun roh adik Jessica Mila, siapa yang membuat dia jadi se-powerful dan sebangsat ini, ada kenal serial killer-kah? Kebanyakan nonton film-film Rob Zombie-kah pas di alam baka?

Makin mumet kalau terlalu dipikirkan, amat banyak pertanyaan yang sebetulnya enggak penting tapi begitu mengganggu pada saat menonton ‘The Doll 3’. Selain itu kesadisan yang disodorkan juga tidak variatif, alhasil atraksi utama yang berdarah-darah berisi tusuk-tusukan dan bunuh-bunuhan malah terasa menjemukkan. Bobby datang bawa pisau, korbannya pasrah hanya bisa teriak, lalu “jleb” berubah menjadi mayat, adegan berikutnya pun sama, pemainnya saja yang berbeda. ‘The Doll 3’ begitu malas hingga harus mendaur ulang formula sebelumnya yang jelas tidak manjur, ditambah kualitas cerita, presentasi horor, penokohan serta logikanya yang semakin ngawur, membuat seri ‘The Doll’ teranyar ini menurut gue jadi yang paling hancur lebur. Terus apa kabar mayat Masayu yang dibiarkan geletak saja, handphone-nya diambil tapi nggak satupun orang yang inisiatif nelpon ambulan. Sedih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s