Everything Everywhere All at Once (2022)

Menonton kegilaan ‘Everything Everywhere All at Once’ seperti otomatis menyeret otak gue kembali ke tahun 2010, tepatnya ketika menyaksikkan ‘Mutant Girls Squad’ tengah malam di “INAFFF” (Indonesia International Fantastic Film Festival). Kayak masterpiece buah karya Tak Sakaguchi, Noboru Iguchi dan Yoshihiro Nishimura tersebut, ‘EEAAO’ bakalan sangat cocok menjadi “headliner” di festival gokil yang sayangnya udah ngak ada. Film yang digarap dua orang sutradara sinting bernama Daniel ini ngak hanya bikin gue kemudian merindukan INAFFF, tapi juga mengingatkan lagi “kenapa” gue mencintai yang namanya sinema, salah-satunya yaitu duduk bareng penonton lain terus ngerasain pengalaman watdefak bersama dalam satu studio yang hampir penuh. ‘EEAAO’ berhasil melakukan itu, membuat seisi bioskop alami kerusuhan massal merespon konten enggak warasnya yang sensasional, tontonan multi semesta yang madness-nya nga tipu-tipu.

Apabila kita telanjangi ‘EEAAO’ dari seluruh action nyeleneh dan multiverse sablengnya, maka yang terlihat hanyalah drama keluarga serta konflik sehari-hari sebagai pelengkap, terutama “pertarungan” antara Evelyn yang diperankan oleh Michelle Yeoh dengan anak perempuannya, Joy (Stephanie Hsu). Sudah dibuat pusing sama urusan bisnis percucian alias laundry, Evelyn tak hanya diperlihatkan lelah dengan rutinitasnya yang menjemukan bertemu pelanggan beragam kelakuan, tapi juga tampak kurang bahagia. Hidup Evelyn bisa dibilang enggak baik-baik saja dan dia butuh sebuah keajaiban untuk memperbaiki semuanya, termasuk kondisi rumah tangga yang problematik. Tak disangka, “mukjizat” tersebut datang dari suaminya, Waymond, yang sekilas mirip Jackie Chan apalagi pas waktunya adegan berkelahi. Tapi Waymond yang akan menyelamatkan hidup Evelyn ini ternyata berasal dari semesta lain bernama Alphaverse. Bersiaplah untuk tercengang!

Tanpa embel-embel semesta berlapis lapis, sebenarnya ‘EEAAO’ sudah memikat lewat drama kehidupan keluarga Asia yang engga saja berasa dekat dengan kita yang orang Indonesia, tapi juga punya momen-momen kontemplatif yang sukses bikin hati nangis. Sejak dari hulunya, bagian drama di ‘EEAAO’ menurut gue memiliki peranan yang sangat penting, baik fungsinya sebagai kendaraan untuk memperkenalkan barisan karakternya sekaligus “medium” yang membantu cerita dalam mengkomunikasikan intrik begitupula dengan satu-persatu konfliknya, khususnya perseteruan terbesar antara Evelyn dan Joy yang nantinya jadi semacam perekat dalam mengikat segala elemen di ‘EEAAO’ hingga ke hilir. Dosis daya tarik yang emang sudah tinggi kemudian makin bertambah maksimal saat sekumpulan adegan-adegan watdefak mulai turun gunung secara berurutan dari yang setengah goblok sampai yang full gila.

Entah darimana dapat hidayahnya, ‘EEAAO’ begitu imajinatif untuk urusan menjabarkan semestanya yang berjumlah mungkin jutaan bahkan bisa jadi unlimited. Walau karangan teorinya terkesan sangat rumit, tapi karena dipresentasikan sambil becanda, kerumitan tersebut seakan tak memusingkan, tertutup adegan-adegan absurd serba random yang dibungkus kreatif sekaligus ngak tanggung tanggung me-mindblowing-kan kepala kita. Ngak hanya dari visualnya yang menjungkir balikkan logika dalam artian positif, ‘EEAAO’ yang dijejalkan oleh segudang referensi ini, dari ‘The Matrix’ hingga ke ‘In The Mood For Love’-nya Wong Kar-wai, nantinya pun bisa bikin kita terpukau berdecak kagum dengan atraksi actionnya yang dikoregrafikan amat epik secara bersamaan juga komedik. Jadi setelah ‘RRR’, film gado-gado yang judulnya panjang ini gue nobatkan sebagai tontonan terfavorit kedua, berkat pengalaman langka dan gila yang dilemparkan ke wajah kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s