IVANNA (2022)

Mentang-mentang horor adalah primadona, mau sejelek apapun posternya, mau seaneh apapun trailer-nya, mau se-random apapun sinopsisnya, mau pakai pemain yang engga terkenal ataupun bintang papan atas, mau siapapun sutradaranya, bahkan yang sama sekali namanya tuh tak pernah kedengeran sebelumnya sekalipun. Horor Indonesia bisa dibilang paling mudah untuk mendatangkan penonton ketimbang genre lainnya, apalagi mereka yang niat membeli tiket bukan buat filmnya melainkan untuk “gelap-gelapan” di pojokan alias penonton pacaran. Alasan ini yang justru bikin horor malah seringkali jadi “lahan basah”, disalahgunakan oleh mereka yang ngebuat film semurah-murahnya tapi mengharap untung melimpah. Tragisnya kebanyakan enggak ngerti apa-apa gimana hasilkan produk tontonan ghoib yang boleh dikatakan layak dikonsumsi manusia. Horor yang seram itu pokoknya setiap lima menit sekali ada penampakan, karakter dan cerita ke laut aja. Semester pertama tahun 2022 ini didominasi film-film horor semacam itu.

Lalu muncul ‘Ivanna’, hantu kepala buntung bagian dari semestanya ‘Danur’ yang hadir di momen yang tepat untuk menyelamatkan perhororan tanah air yang memang sedang darurat film dedemit sehat. Kimo Stamboel yang pada 2019 silam sukses “meneluhkan” kengerian lewat ‘Ratu Ilmu Hitam’ memiliki pekerjaan rumah yang tidak mudah, salah satunya adalah menaikkan standar kualitas film-film horor MD Pictures yang sejujurnya sudah waktunya untuk diperbaiki. Seingat gue, ‘Maddah’ (2018) dan ‘Asih 2’ (2020) itu yang paling meningan, namun kedua horor arahan Awi Suryadi dan Rizal Mantovani ini sebetulnya juga masih kurang memuaskan buat gue yang berharap bisa ditakut-takuti hingga merapal ayat kursi. ‘Ivanna’ dimulai dengan menjanjikan, Kimo terlihat kok mau bercerita dahulu ketimbang menjual dirinya ke setan lalu mengobral penampakan kayak mayoritas pembuat film hantu-hantuan, ya termasuk nantinya memberikan ruang yang cukup bagi karakternya untuk mengenalkan dirinya ke kita yang duduk di kursi penonton.

Tidak ada yang mubazir, dari para penghuni panti hingga barang-barang property, dari tokoh yang paling annoying sampai kampak yang dikira enggak bakalan penting. Alhasil Kimo efisien dalam urusan memaksimalkan bujet ‘Ivanna’, karena semua yang kita lihat punya peran dan fungsinya masing-masing dalam penceritaan jadi bukan sekedar ada sebagai sebuah pajangan semata. Dengan treatment pergerakan alurnya yang sengaja dibikin enggak terburu-buru, Kimo memiliki cukup waktu di paruh pertamanya ‘Ivanna’ untuk “mengabsen” satu persatu elemen di filmnya, baik yang tugasnya mendongkrak atmosfer supaya semakin cekam, maupun yang fitrahnya jadi pemantik bangkitnya si hantu tanpa kepala. Bahkan sebelum nanti meloncat ke paruh pembantaian, penonton terlebih dulu diajak ke dalam zona nyaman, menikmati cerita dan interaksi karakternya, tujuannya tentu saja agar kita makin lengah dan tidak menyadari teror yang sudah siap menyergap dari basement yang gelap.

‘Ivanna’ harus diakui bukan horor sempurna dengan bermacam kekurangan, khususnya bagian konklusi yang bikin dahi mengernyit. Untungnya, sisi menyenangkan dari ‘Ivanna’ berhasil mengubur kelemahan skenarionya. Memboyong Kimo ke ‘Danur Universe’ jelas adalah keputusan terbaik MD, pengaruhnya terlihat cukup signifikan enggak hanya pada saat menterjemahkan tulisannya Lele Laila menjadi bahasa gambar yang menarik dan artistik, tetapi juga sewaktu memvisualkan adegan-adegan horornya dengan teknikal dan treatment yang tepat. Output-nya sudah bisa ditebak, kebrutalan dan daya seram di ‘Ivanna’ kemudian auto maksimal memikat. Kemunculan si kepala buntung tak bakalan bikin kita kelelahan, layaknya penampakan di film-film horor produksi MD sebelumnya, sebaliknya atraksi “silent terror“-nya Kimo akan membuat kita makin ketagihan walau sudah panas dingin karena ketakutan. Gue puas dengan apa yang ditawarkan ‘Ivanna’, termasuk momen flashback-nya yang edan. Tahun ini kita punya banyak film horor lokal, tapi baru sekarang gue beli tiket terus ngak “kembalikan uang saya” alias tak menyesal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s