Pengabdi Setan 2: Communion (2022)

Setelah selama 5 tahun menunggu, akhirnya gue bisa kembali bertemu Ibu. Sekarang tak lagi di rumah kecil seberang kuburan, tetapi bertamu ke komplek rumah susun di daerah Jakarta Utara dekat dengan lautan. Jikalau syarat-syarat untuk sebuah sekuel itu harus lebih besar, ‘Pengabdi Setan 2: Communion’ sudah memenuhi salah-satu kewajibannya. Selain nantinya diajak ke arena “permainan kejar-kejaran sama setan” yang lebih lebar, luas dan tinggi di bangunan berlantai kalau tak salah belasan, kita juga akan dikenalkan hadirnya karakter-karakter baru menemani Rini (Tara Basro) dan keluarganya, termasuk penghuni ikonik yang diperankan oleh Ratu Felisha dan seorang Ustad yang dilakonkan Kiki Narendra. Keduanya tak hanya bakalan berakting epik mengisi slot adegan-adegan bikin bergidik, tapi juga menurut gue punya peranan yang signifikan menjadikan horor berdurasi hampir dua jam ini lebih menarik, apalagi diselingi beberapa kelucuan cerdik yang bikin gue semakin lengah, alhasil bisa mudah untuk ditakut-takuti kelak oleh Joko.

Sebetulnya ingin mengupas ‘Communion’ ini secara mendalam, mengaitkan simbol serta misteri sekaligus teori konspirasinya dengan predesesornya, bahkan dengan film-filmnya Joko Anwar lainnya. Namun untuk sekarang gue nga bakal banyak menganalisa panjang dikali lebar, ulasan kali ini murni hanya reaksi pertama sehabis nonton, non spoiler karena pas podkes ini mengudara pastinya banyak yang belum bertemu dengan Ibu. Jadi, apa sih yang gue rasakan begitu selesai, setelah credit menggulung lalu beranjak keluar dari studio IMAX? Tentu saja kebahagiaan. Joko Anwar sudah memberikan sebuah tontonan horor yang memang gue idam-idamkan, tak sekedar dipenuhi kengerian yang membuat gue kegirangan, tapi juga dijejalkan elemen satanik yang makin merangsang raga untuk jingkrak-jingkrak melakukan aksi akrobatik kayak orang sedang kerasukan. ‘Pengabdi Setan 2’ pokoknya mah kasih pengalaman sinematik yang edan, ke bioskop yang lebih jauh jaraknya dari rumah pun engga sia-sia, pengorbanan terbayar sepadan.

Apabila dianalogikan, ‘Communion’ ini kayak masuk ke restoran padang langganan yang segala jenis makanannya sudah tersaji rapih di meja, dari rendang hingga ayam pop, kita bebas memilih mau ambil yang mana sesuai dengan selera tentunya. Seram atau enggak seram itu menurut gue sangat relatif, setiap orang pun sadar nga sadar memiliki konsep tersendiri akan wujud seperti apa yang bisa menakuti mereka. Oleh sebab sumber takut yang berbeda itulah, makanya Joko dengan bijaksana menghadirkan ‘Pengabdi Setan 2’ menjadi kayak “HOSERBA” alias horor serba ada yang menyediakan adegan menakutkan dengan level keseraman yang variatif, mulai dari yang sekedar bikin kita menutupi muka (khususnya kedua mata), hingga merasakan panas dingin sambil merapal doa. Silahkan comot mau ketakutan dengan penampakan yang dihadirkan sunyi-sunyi-ngeri ala Kimo di ‘Ivanna’ ataupun atraksi jumpscare yang memang sengaja di-treatment ramai serta berisik. Apapun menu horornya, mau yang sederhana sekali atau amat meriah, semua “dimasak” sekaligus “diracik” dengan benar.

‘Pengabdi Setan 2: Communion’ adalah ‘The Raid’ versi horor, dimana setiap lantai bukan lagi dihuni oleh penjahat melainkan pocong berwujudkan mirip dodol black metal laknat yang stanby di tiap kamar dengan berbagai terornya yang bangsat. Penampakan yang sudah disiapkan dengan matang oleh Joko Anwar nantinya bukan hanya menakutkan, tapi juga dibungkus dengan nuansa cekam yang sungguh efektif dalam fungsinya buat menambah kengerian. Rumah susun yang sejak awal terlihat angker tersebut beneran dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk bikin penontonnya tidak nyaman, termasuk tingkah beberapa penghuni yang aneh dan lift yang selalu menciptakan rasa was-was. Atmosfer yang dibangun tidak mengenakan kian menyesakkan sewaktu bebunyian dan sinematografinya kompak dalam urusannya bikin penonton merinding sambil seribu kali berteriak “anjing!”. Akhir kata, ‘Communion’ sudah memberikan kesenangan, tontonan horor yang mengabdi pada penonton, bikin kita ketakutan bukan semata karena cuan.

Sang Saturnus Kembali Tiap 29 Tahun Sekali!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s