Savageland (2015)

Sebagai penggemar militan subgenre horor, mokumenter/found footage, rasanya sangat bahagia ketika menemukan film yang “wah, gue banget ini” alias bagus secara konsep dan esekusinya. Dengan begitu banyaknya film dokumenter bohong-bohongan di luar sana, bagaikan mencari jarum di setumpuk jerami kayaknya untuk akhirnya ketemu film yang anjing banget. Salah satu hidden gem tersebut adalah “SAVAGELAND”, film yang dirilis pada tahun 2015 dan ditulis sekaligus digarap keroyokan oleh 3 orang, Phil Guidry, Simon Herbert, dan David Whelan. Layaknya program acara di FOX CRIME atau HISTORY CHANNEL, kita nantinya akan dipaksa untuk percaya telah terjadi pembunuhan massal di kota perbatasan USA dan Meksiko, Sangre De Cristo. Hanya dalam semalam, populasi kota berubah jadi nol dari yang awalnya 57 orang, hampir semua dinyatakan meninggal dunia, kebanyakan mayatnya pun hilang dan sisanya cuma potongan tubuh berserakan. Apakah yang sebenarnya terjadi di tanggal 2 Juni 2011? Betulkah ini ulah psikopat?

Nah, lewat Francisco Salazar, satu-satunya yang selamat sekaligus orang yang dituduh melakukan pembantaian, bersama dengan beberapa narasumber, termasuk fotografer dan jurnalis, kebenaran di “SAVAGELAND” yang awalnya samar-samar pun terungkap dengan bantuan kesaksian, bukti video dan foto yang tentunya mencengangkan serta mengerikan. Bayangkan ini, “NIGHT OF THE LIVING DEAD” tetapi dipresentasikan kayak “LAKE MUNGO”, gue nantinya enggak cuma diseret-seret untuk percaya seratus persen yang terjadi di kota Sangre De Cristo adalah sebuah true story, berkat sederetan omong kosong dan gambar-gambar penampakan yang enggak jelas bentukannya, mirip-mirip seperti potret BIG FOOT atau LOCH NESS. Film berdurasi 80 menit ini pun tahu banget bagaimana cara paling bangsat mengupas lapis demi lapis misteri pembantaian supaya penonton terpancing makin penasaran dan yang paling penting: imajinasi ikutan meliar.

Menurut selera gembel gue tentang horor, salah satu kriteria film yang bagus itu justru bukan yang elemen-elemen seramnya terus menerus disodorkan pada penonton secara instant, melainkan yang masih menyisakan ruang di dalam durasinya demi memberikan kita kebebasan supaya berimajinasi sendiri. Kenapa film seperti “ANGKER” (2014) yang digarap Muhammad Yusuf itu mujarab buat gue dalam urusannya menghantarkan rasa takut, karena sosok Mbah Tun diperlihatkan sedikit-sedikit alias pelit amat penampakan. Disini tugas pembuat film sebetulnya hanya menyemplungkan umpan, lewat bayangan di pojokan ataupun suara-suara mencekam misalkan, selanjutnya biarkan imajinasi kita terpancing, memproses wujud-wujud seram itu di kepala sebelum penampakan aslinya muncul di layar. Termasuk pada saat nonton mokumenter atau found footage, treatment kayak itulah yang gue sukain, makanya gue memuja sekali “NOROI” dan “KERAMAT”.

Bangsatnya “SAVAGELAND” melakukan apa yang gue suka saat menuturkan misterinya, nga hanya mempersilahkan imajinasi untuk mengawang-awang tetapi juga menjejalkan banyak fakta-fakta yang masih buram agar penonton makin terkecoh oleh prasangka dan asumsi ciptaan kita sendiri. Selagi film tak terburu-buru membeberkan kebenaran tentang apa yang terjadi pada malam 2 Juni 2011 lewat foto-foto amatiran hasil jepretan Francisco Salazar, dan mengungkap siapa pelaku pembantaian, gue nantinya dibiarkan juga untuk asyik menebak-nebak. Mungkin penduduk Sangre De Cristo ini dihabisi oleh kelompok rasis radikal, atau bisa saja ulah kartel narkoba, atau barangkali ada sangkut pautnya dengan pendatang dari luar bumi. Tidak ada satu pun adegan yang mubazir di “SAVAGELAND”, sejak awal masing-masing gambar dan wawancara punya peran yang jelas, dari yang fungsinya bikin kita semakin penasaran sambil berucap “anjing ada apa ini?”, hingga nantinya pas third act sukses dibuat syok terus teriak “anjing” berkali-kali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s