Inang (2022)

Dengan kekayaan sumber daya folklore dan kultur yang melimpah di Indonesia, memang sangat disayangkan ketika kebanyakan film horor Indonesia justru seperti mentok pakai cerita yang itu-itu saja, dengan konten yang variasinya sebatas mempertontonkan setan dan penampakan. Jadi, pada saat seorang Fajar Nugros muncul bersama “Inang”-nya, gue pun otomatis berdiri menyambut sambil menebarkan kembang tujuh rupa. Mukjizat adalah kata yang tepat untuk mewakili apa yang bakal dihadirkan oleh “Inang”, sebuah film horor yang tak sekedar berbeda karena mau mengangkat tradisi rabu wekasan, tapi juga bisa dibilang terlampau nekat “jualan” horor non hantu-hantuan di jaman dimana yang laris itu filmnya mesti ada genderuwo. Meski nantinya terdapat kekurangan disana sini, “Inang” menurut gue tetap patut untuk diberikan apresiasi yang tinggi atas jasanya membangkitkan lagi jenis horor tak populer.

Apa yang dilakukan “Inang” seharusnya jadi semacam percontohan bagi siapa saja yang mau membuat film horor, terutama dengan tema serupa yang menggabungkan folklore lokal dan thriller psikologis. Karena menurut gue, arahan Fajar Nugros sudah benar pada saat memulai “Inang”, durasinya di separuh pertama banyak diberikan untuk si karakter utama, yaitu Wulan (Naysila Mirdad). Tidak hanya dihabiskan buat mengenal kehidupan perempuan yang dicampakkan oleh cowok brengsek ketika sedang mengandung, kita juga nantinya diajak berkeliling melihat lebih dekat betapa realistiknya lingkungan sekitar Wulan, dunia mirip aslinya yang terasa ngak asing di mata penonton. Dengan bangunan latar belakang yang semenarik dan senyata itu, “Inang” jelas ingin sekali bikin penonton peduli dengan nasib Wulan, bisa merasakan hopeless-nya, lalu pada akhirnya mengerti, semua yang dilakukan Wulan adalah semata mata demi si bayi meski sulit dan terpaksa.

Setelah dirasa cukup memperkenalkan sang protagonis, dalam fungsinya memupuk rasa simpati dan membuat penonton lebih peduli dengan segala kesusahan serta mau ngerti kenapa Wulan pada akhirnya sembarangan membiarkan bayinya akan diadopsi dengan modal grup FB yang random dan nga jelas. Barulah di separuh berikutnya ‘Inang’ mulai berganti modus operandi, dari menunjukkan “horornya” kehidupan si Mbak kasir sebuah mini market, lalu beranjak ke babak terornya yang dilepas perlahan-lahan alias slowburn. Jurus yang memang bisa dikatakan sudah biasa digunakan di tipe horor seperti ‘Inang’ ini, jadi jangan berharap nantinya dikejutkan oleh jumpscare kilat dan penampakan yang umum ada di film horor setan setanan lokal. Ketakutan di ‘Inang’ bukan dibangun based on visual seram saja, tapi justru kebanyakan bergantung dengan adegan yang disengaja dimunculkan agar rasa nyaman kita pun ikut terusik, sambil nanti serentak dalam benak merespon berjamaah “anjing aneh banget!”.

Terlepas kesukaan gue dengan cara ‘Inang’ memperlakukan Wulan dan bagaimana film yang pernah tayang di Festival Film Fantasi Internasional Bucheon ini mau mengeksplor folklore lokal yang orang banyak nga kenal, lalu memanfaatkan ketidaktahuan penonton untuk mengundang perasaan campur aduk, termasuk cemas selagi penasaran pun lagi ditumpuk. ‘Inang’ bukan tanpa kekurangan, seperti yang gue singgung di awal, apalagi ketika memasuki babak dimana Wulan telah menjalani proses “ruwatan”. Selepas ritual di kamar tidur yang menghadirkan seorang sosok dukun, teror yang sebelumnya tidak tergesa-gesa justru secara tiba-tiba terasa tancap gas dengan pertunjukkan montase Wulan yang mulai berhalusinasi, termasuk melihat kemunculan makhluk sejenis kuda lumping tapi berkedok rusa. Sejak saat itu, ‘Inang’ menjelma jadi tontonan yang tidak konsisten dan repetitif, meskipun daya tarik misterinya tidak kemudian langsung lenyap.

Cukup disayangkan ‘Inang’ mengorbankan terornya yang sudah terbangun amat baik demi kehadiran karakter baru yang enggak hanya mengubah keseluruhan atmosfer di dalam rumah, dari yang mencekam malah menjadi terasa kurang mengancam, tetapi juga melunturkan warna filmnya yang pada awalnya misterius dan kerasa meyakinkan, kemudian berganti dark comedy yang agak dipaksakan. Rasa nyaman yang sudah asyik terusik oleh keanehan demi keanehan yang dipertontonkan Pak Agus Santoso (Rukman Rosadi) serta Bu Eva (Lydia Kandou) harus mundur demi memberikan jalan bagi Bergas untuk memperlihatkan betapa sial sekaligus sok Inggris-nya beliau. Ada ketidakcocokan bukan berarti membuat gue membenci film berlabel 17 tahun keatas ini, kemauan serta keberaniannya mencoba subgenre yang tak sering diproduksi filmmaker lokal sekali lagi layak dapat acungan jempol. Semoga habis ‘Inang’ akan bermunculan film-film “beda” lainnya agar tontonan kita makin variatif.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s