Scream (2022)

Masih ingat enggak kapan pertama kalinya nonton ‘Scream’ original? Jawabannya pasti bakal bermacam-macam nih, mungkin ada yang di bioskop (beruntungnya orang yang bisa nonton ‘Scream’ pertama di layar lebar ya, karena pada jaman itu gue masih terlalu ingusan buat kenal yang namanya bioskop, lagian duit jajan gue abis buat beli layangan kaya Atun). Mungkin juga ada yang nonton bertahun-tahun kemudian setelah filmnya rilis via format VCD, DVD, atau bahkan lewat laserdisc (anak sekarang tahu LD enggak yah hahahaha). Seinget gue dengan memori samar-samar, ‘Scream’ versi 1996 itu baru sempat nonton beberapa tahun kemudian ketika home video-nya sudah beredar dan disewakan di tempat-tempat penyewaan vcd dan laserdics pada waktu itu. Karena di rumah adanya pemutar LD, jadi kunjungan gue ke toko sewa movie yang berlokasi di depan gang enggak jauh dari rumah pun berujung dengan bawa film ‘Scream’ dalam bentuk cakram segede gaban hahahaha.

(more…)

Makmum 2 (2021)

Di balik penampakan setan berulang lusinan kali yang sebenarnya memuakkan, ternyata ‘Makmum 2’ menyembunyikan pesan positif untuk jangan merusak hutan, mengingatkan gue dengan band eco-metal asal Perancis bernama GOJIRA, yang selalu menyusupkan tema lingkungan hidup dalam tiap lantunan kecadasannya. Gue mengapresiasi langkah tersebut, karena jarang sekali film Indonesia apalagi horor yang durasinya habis oleh aksi jumpscare, mau repot-repot memasukkan kepedulian terhadap lingkungan ke dalam skripnya. Well, setidaknya ada sisi baik yang bisa gue ingat selama duduk di bangku E8, selain berdoa mengharap ‘Makmum 2’ mau mengakhiri penceritaannya yang menyiksa. Meski sedikit lebih baik dari predesesornya yang mengenaskan, sekuel ini tetaplah eco horror yang gagal melaksanakan misinya untuk memberikan ketakutan, mengulang kesalahan serupa yang sudah ribuan kali dilakukan oleh kebanyakan film horor lokal.

(more…)

Don’t Look Up (2021)

Umat manusia diceritakan bakalan musnah akibat tubrukan komet seukuran gunung bukanlah kali pertama dimunculkan dalam premis sebuah tontonan. “Deep Impact” dan “Armageddon” sudah berhadapan lebih dulu dengan planet killer tersebut di tahun 90-an, bahkan tahun lalu ada film berjudul “Greenland” yang dibintangi Gerard Butler, berurusan dengan bongkahan batu dari luar angkasa yang juga sama-sama mau ancurin Bumi dan seisinya. Meski sumber bencana di “Don’t Look Up” serupa, dengan strategi penyelamatan yang terasa familiar, tingkat keseriusannya jelas berada di koridor yang berbeda. Ada nama orang gila tercantum sebagai pembuatnya, orang tak waras yang juga mengarahkan film-film sableng macam “Step Brothers”, “Talladega Nights: The Ballad of Ricky Bobby”, “The Other Guys” dan tentunya yang terlejen: “Anchorman: The Legend of Ron Burgundy”.

(more…)

Yuni (2021)

Beberapa waktu lalu gue menonton film asal India, judulnya “Skater Girl”, tentang pemberontakan seorang gadis kampung demi kebebasan dan impiannya bersama papan seluncur tak hancur oleh kekangan rantai tradisi, yang nempatin perempuan hanya akan berakhir di dapur, sumur dan juga kasur. Sekali lagi sinema dijadikan medium untuk meneriakkan perlawanan, mewakili suara mereka yang “terlakban”. “Yuni” pun adalah karya gambar bergerak atas nama perlawanan, mengisahkan cewek penggemar warna ungu yang ingin melambung jauh terbang tinggi bersama mimpi, tapi terhempas oleh kenyataan dan tersungkur kembali ke daratan. Lewat film ini Kamila Andini seperti ingin menegaskan sulitnya hidup sebagai perempuan, sambil mengingatkan kita yang tidak mengalami, khususnya kaum lelaki, untuk lebih peduli.

(more…)

Vengeance Is Mine, All Others Pay Cash (2021)

Sinema Indonesia butuh lebih banyak film berisi karakter perempuan yang nuntaskan dendam dengan meriah sekaligus berdarah layaknya karakter Iteung dan Marlina. Meski hanya berupa tontonan berdurasi sekian jam, tapi ada pelampiasan kemurkaan yang terwakilkan oleh parang ataupun pulpen mereka. Layaknya ‘Marlina’ buatan Mouly Surya, ‘Seperti Dendam’ ini seperti menuangkan kemarahan gue yang sudah mendidih dalam kepala ke wadah bernama cinema. Kemarahan yang berkerak dari rasa tak berdaya ketika melihat atau membaca berita soal pemerkosaan dan kekerasan seksual. Film ‘Seperti Dendam’ dengan tepat mengekspresikan apa yang sudah lama ingin gue lakukan kepada para pelakunya. Menggantung mereka di tiang sangkar burung atau sekedar menjepitkan anunya ke pintu lemari hingga terpisahkan dari kantung berkulit yang berisikan dua biji.

(more…)