Iblis Dalam Kandungan (2022)

‘Iblis Dalam Kandungan’ sebetulnya dimulai dengan menjanjikan di awal, tak hanya ada opening title yang dibuat ala ‘Se7en’ (salah satu bagian favorit gue di film ini), tapi juga berniat ingin bercerita ketimbang buru buru munculin penampakan jeleger kayak horor lokal pada umumnya. Dibintangi oleh Nafa Urbach (Kembang Kantil) dan Muhammad Adhiyat (Pengabdi Setan), si ‘Iblis Dalam Kandungan’ nantinya bakalan mengenalkan kita dengan sebuah keluarga yang dipaksa pindah ke rumah baru yang ternyata isinya tentu saja berhantu. Teror gangguan gaib pun langsung menyapa keluarga di malam pertama, dari suara dan bebunyian yang misterius hingga penampakan perempuan bergaun putih yang duduk santuy di ayunan. Yah, bukan film horor Indonesia kayaknya kalau engga ada adegan kerasukan “aing maung”, maka ‘Iblis Dalam Kandungan’ pun tidak ketinggalan memamerkan aksi Nafa Urbach mengacak-ngacak makanan dalam kulkas lengkap dengan wajah yang sudah dipermak jadi menyeramkan, hiyyyy!!

(more…)

Texas Chainsaw Massacre (2022)

Sekelompok pemuda dan pemudi datang ke kota yang hampir tidak berpenghuni, hanya ada seorang nenek-nenek penyakitan yang katanya pemilik panti asuhan dengan hiasan bendera konfederasi. Padahal seharusnya gedung-gedung di kota tersebut kosong, karena sudah dibeli untuk dijadikan tempat “ngumpul” anak-anak kota yang bosan dan ingin mencari sesuatu yang fresh. Setelah terjadi debat kusir karena si nenek sempat ngotot masih menjadi pemilik sah gedung, penyakitnya kambuh dan dia ambruk, lalu diantar oleh polisi ke rumah sakit, ditemani oleh “anak asuhnya” yang wajahnya sengaja disembunyikan. Malangnya, nyawa si nenek tidak tertolong, meninggal di tengah jalan, kejadian tersebut pun memicu pembantaian oleh si “anak asuh” yang belakangan kita ketahui adalah Leatherface, pembunuh gila yang suka memakai topeng dari kulit wajah korban-korbannya. Bersiaplah berdarah!

(more…)

All of Us Are Dead (2022)

Berlokasi di sekolah SMA bernama Hyosan, ‘All of Us Are Dead’ nantinya akan mengikuti resep film/series bergenre serupa, dari satu gigitan berujung kekacauan. Seperti ‘Train to Busan’ tapi dengan bumbu cerita remaja yang sumber infeksinya berasal dari virus bernama Jonas, hasil eksperimen pak guru sains yang tampangnya sekilas mirip serial killer. Virus tersebut nantinya tanpa sengaja pindah dari seekor tikus ke inang baru yakni tubuh siswi tidak berdosa. Maka dimulailah efek domino, dari satu gigitan ke aksi gigit menggigit lainnya, dari siswi terinfeksi yang dibawa ke UKS lalu menulari dokternya dan berujung zombie outbreak. Malapetaka tak hanya terjadi di sekolah tapi penularan virus yang mengubah manusia jadi mayat hidup agresif doyan lari dan makan usus terburai ini bakal diceritakan menyebar ke seluruh penjuru kota. Tapi fokus ‘All of Us Are Dead’ nantinya akan lebih banyak menyorot aksi di sekolah, melihat bagaimana sekelompok murid yang berhasil selamat mencari cara untuk terus bisa bertahan hidup.

(more…)

Archive 81 (2022)

‘Archive 81’ akan mengajak kita berkenalan dengan kehidupan Dan Turner (Mamoudou Athie), seorang konservator yang kerjanya setiap hari menyelamatkan gulungan pita kaset video yang rusak. Keahliannya dalam merestorasi kemudian mempertemukannya dengan pengusaha kaya raya. Dan diimingi bayaran gede banget, asalkan mau bekerja di lokasi terpencil untuk memperbaiki kaset rekaman berisikan film dokumenter tentang apartemen misterius bernama Visser. Yang awalnya hanyalah pekerjaan restorasi biasa, kemudian menyeret Dan lebih dalam masuk ke lorong remang-remang apartemen yang ternyata menyimpan banyak keganjilan dan keanehan. Sambil menyelesaikan tugasnya, satu-persatu rahasia di apartemen terkuak, mulai dari si pembuat dokumenter bernama Melody (Dina Shihabi) yang mengenal Ayah Dan, hingga penghuni Visser yang diyakini terlibat sebuah paguyuban pemuja setan.

(more…)

Scream (2022)

Masih ingat enggak kapan pertama kalinya nonton ‘Scream’ original? Jawabannya pasti bakal bermacam-macam nih, mungkin ada yang di bioskop (beruntungnya orang yang bisa nonton ‘Scream’ pertama di layar lebar ya, karena pada jaman itu gue masih terlalu ingusan buat kenal yang namanya bioskop, lagian duit jajan gue abis buat beli layangan kaya Atun). Mungkin juga ada yang nonton bertahun-tahun kemudian setelah filmnya rilis via format VCD, DVD, atau bahkan lewat laserdisc (anak sekarang tahu LD enggak yah hahahaha). Seinget gue dengan memori samar-samar, ‘Scream’ versi 1996 itu baru sempat nonton beberapa tahun kemudian ketika home video-nya sudah beredar dan disewakan di tempat-tempat penyewaan vcd dan laserdics pada waktu itu. Karena di rumah adanya pemutar LD, jadi kunjungan gue ke toko sewa movie yang berlokasi di depan gang enggak jauh dari rumah pun berujung dengan bawa film ‘Scream’ dalam bentuk cakram segede gaban hahahaha.

(more…)