The Black Phone (2022)

Sebagai orang yang memuja ‘The Exorcism of Emily Rose’, mendengar Scott Derrickson kembali ke “fitrahnya” membesut film horor, otomatis membuat gue seperti orang yang mengalami momen demonik, percampuran antara terlalu girang dan kerasukan keenam iblis yang gagal diusir Pastur Richard Moore. Oke sebelum gue semakin ngawur, ‘Telepon Hitam’ nantinya akan mengajak kita kembali ke akhir tahun 70-an, lalu menginjakkan kaki di pinggiran kota Colorado yang tampaknya damai dan tenang dari luar namun ternyata problematik di dalam. Apalagi sejak adanya “The Grabber” pelaku pembunuhan berantai dengan korban anak-anak, termasuk Finney (Mason Thames) yang jadi “mangsa” paling baru dari serial killer dengan ciri khas balon hitam ini. Ketika polisi terlihat putus asa dan investigasi para detektif pun menemui jalan buntu, Gwen (Madeleine McGraw), adiknya Finney yang punya bakat istimewa seperti ditakdirkan untuk selamatkan sang kakak.

(more…)

Rumah Kuntilanak (2022)

‘Rumah Kuntilanak’ mungkin seharusnya tak perlu direkam pakai kamera resolusi tinggi, karena meski gambar yang dihasilkan jernih, tapi tak sebanding dengan amat rendahnya niat menyajikan tontonan yang karcisnya itu layak untuk dibeli, bukannya justru menyesal mengeluarkan duit seharga dua liter minyak goreng. Dengan bahasa visual yang enggak berfungsi sama sekali dalam menyampaikan cerita, alanglah bijak jikalau syuting ‘Rumah Kuntilanak’ menggunakan kamera VGA 0.3 megapixel dari handphone era 2000-an aja. Toh bisa menghemat bujet dan menghindar dari yang namanya mubazir, lagian percuma bungkusnya yang cantik pun pada akhirnya tak mempengaruhi keseluruhan kualitasnya yang membuat kepala bagian belakang jadi sakit mirip pertanda kolesterol sedang naik. ‘Rumah Kuntilanak’ semestinya memberikan peringatan sebelumnya, setidaknya supaya gue bisa berjaga-jaga dengan bawa pereda nyeri untuk diminum tiap lima menit sekali.

(more…)

Ngeri-Ngeri Sedap (2022)

Tak ada keluarga yang sempurna, pasti ada aja ribut-ributnya, pasti ada aja masalahnya macam Pak Domu (Arswendy Beningswara Nasution) sama anak-anaknya. Ingin ketiga putranya yang merantau ikut mau bapaknya malah bikin keharmonisan mereka enggak lagi terasa manis selama bertahun-tahun. Domu (Boris Bokir Manullang) si yang paling besar maunya menikah dengan perempuan Sunda, tapi bapaknya kekeuh ingin anaknya kawin sama yang satu suku. Gabe (Lolox) yang lulusan sarjana hukum malah bekerja sebagai pelawak, tidak suka bapaknya, mau anaknya jadi hakim ataupun jaksa. Ada lagi Sahat (Indra Jegel) namanya, setelah lulus kuliah justru lebih betah di Jogya ketimbang pulang mengurus orang tua. Satu-satunya yang tersisa di rumah hanyalah Sarma (Gita Bhebhita Butar-butar), si anak perempuan kesayangan yang kerja sebagai PNS.

(more…)

The Doll 3 (2022)

Sudah mau pertengahan tahun, tapi belom ada satupun horor lokal yang bener-bener memuaskan dahaga gue yang haus dengan tontonan setan-setanan menyegarkan dan menakutkan. Bicara kuantitas, kita memang bisa dibilang tidak pernah kekurangan stok film horor, dalam sebulan minimal bakal ada 1 atau 2 penghuni alam gaib yang “mampir” terus nangkring di jadwal “sedang tayang” bioskop. Hingga akhir Mei saja, jika enggak salah hitung jumlahnya sudah 10 film horor, termasuk yang sempat gue tonton seperti: ‘Teluh’, ‘Iblis Dalam Kandungan’, Menjelang Magrib’, ‘Oma The Demonic’, ‘KKN di Desa Penari’ dan ‘The Doll 3’ yang sekarang akan gue review. Meskipun berhamburan aneka setan, dari yang berwujud mirip sonic paska terdampak ledakan gas 3 kilogram, hingga siluman ular yang lihai menggoda sekaligus berjoget, secara kualitas penceritaan serta konstruksi penampakan, film-film tersebut menurut gue berstatus memprihatinkan.

(more…)

Srimulat: Hil Yang Mustahal (2022)

Setelah ‘Finding Srimulat’ garapan Charles Gozali yang tayang pada 2013 silam, secara personal gue tentu saja senang grup lawak legendaris yang dikomandani Teguh Slamet Rahardjo ini sekali lagi diboyong ke bioskop, dalam wujud aktor dan aktris yang nantinya dipermak untuk tak hanya serupa wajahnya, tetapi juga dibuat mirip tingkah serta cara bicaranya dengan Asmuni, Nunung, Tarzan, Basuki, Gepeng, bahkan Kabul alias Tessy. Lewat ‘Srimulat: Hil Yang Mustahal’, mereka yang mengenal sekaligus tumbuh bersama candaan-candaan khas kelompok pelawak yang didirikan pada tahun 50-an ini tak saja akan diajak untuk nostalgia, tapi diingatkan lagi betapa kita merindukan dibuat tertawa oleh guyonan mereka, termasuk aksi mata kecolok yang melegenda itu. Bagi yang tak tahu Srimulat, film garapan Fajar Nugros ini adalah kesempatan emas untuk mengenal kehebatan Timbul dan kawan-kawan ketika melawak. Meski bukan orang aslinya, tetapi semangat dan nyawa Srimulat sudah kayak merasuki sepenuhnya ke dalam lakon yang diperankan Bio One, Ibnu Jamil, Teuku Rifnu Wikana, Erick Estrada dan pemain lainnya.

(more…)