Sri Asih (2022)

Bukan perkara yang mudah untuk mengajak penonton Indonesia datang ke bioskop buat nonton film superhero lokal, apalagi setelah layar sinema kita selama bertahun-tahun ini jadi medan pertempuran antar dua semesta jagoan terbesar, Marvel melawan DC. Butuh usaha yang lebih hardcore untuk ngeyakinin orang +62 bahwa film adiwira buatan negeri sendiri juga mampu bersaing dengan ‘Thor’ dan pahlawan-pahlawan super lainnya yang diimpor dari Hollywood. Untuk mewujudkan ambisi tersebut, niat “mulia” doang menurut gue tidaklah cukup, kekuatan konsep cerita, kemantapan esekusi serta kesiapan sumber dana adalah penyokong utama yang engga boleh dihiraukan bagi siapapun yang punya keinginan menghidupkan tokoh-tokoh sakti dari komik nusantara. Bujetnya ada, namun tak didukung penceritaan yang matang dan diperparah oleh implementasi adegan yang payah, hasilnya bisa terlihat di ‘Satria Dewa: Gatot Kaca’ yang gagal manfaatkan potensi besarnya untuk suguhkan film jagoan super made in Indonesia yang bisa kita kagumi.

(more…)

BARBARIAN (2022)

Bermodal pernah melihat cuplikan trailer-nya sekali, gue beruntung tidak berusaha untuk lebih mencari tahu tentang apa sebetulnya horor garapan Zach Cregger ini. Keputusan tepat yang pada akhirnya nanti gue syukuri, karena ‘Barbarian’ adalah spesies tontonan yang sepatutnya harus dinikmati tanpa tahu apapun isinya. Dengan premis yang dimulai dengan dua orang tak sengaja (atau emang ada seseorang yang jahil) bertemu di rumah yang mereka sewa, kemudian berujung jadi mimpi buruk yang mengancam nyawa. Awal durasi ‘Barbarian’ akan terasa seperti horor yang sering gue santap, bahkan gue sudah sok pintar menebak-nebak bakal ada scene faktap, namun ternyata kesotoyan sekaligus kesiapan mental gue tetap berhasil dikoyak oleh sederet adegan-adegan unpredictable yang bikin rahang gue kayak dipaksa dibuka memakai linggis untuk dibiarkan celangap.

(more…)

Qodrat (2022)

Meskipun awalnya tampak memprihatinkan, sinema horor Indonesia tahun ini ternyata tidak sesuram yang gue bayangkan, apalagi setelah semester keduanya dibuka dengan kemunculan hantu kepala buntung ‘Ivanna’ yang begitu menyenangkan, lalu disusul film sekuel paling ditunggu sejagat meta fisika, yaitu ‘Pengabdi Setan 2: Communion’. Ngak berhenti sampai di Bunda Raminom, karena sehabis itu tayang ‘Jailangkung Sandekala’ yang anying dan ‘Inang’ yang membawakan jenis horor tanpa setan tetapi masih sukses bikin kita merinding. Senyum gue pun makin mengembang layaknya adonan donat yang dimasukkan ke dalam oven, tatkala sapaan salam dari Marsha Timothy yang kerasukan seperti menyambut para penggemar horor untuk kembali bersenang-senang bersama suguhan horor yang berbeda. ‘Qodrat’ yang digarap oleh Charles Gozali ini nantinya tak hanya akan terbalut unsur relijius yang bikin gue inget kata “tobat”, namun juga dioplos dengan adegan-adegan action yang hebat.

(more…)

Smile (2022)

Kalau pada 2014 silam ada ‘It Follows’ yang di balik bungkus horornya seperti kampanye terselubung soal bahaya pergaulan bebas dan penyakit kelamin. Nah, sekarang ‘Smile’ dapat giliran buat meningkatkan kesadaran penonton tentang kesehatan mental sambil nantinya menyelam ke kehidupannya Dokter Rose Cotter (diperankan Sosie Bacon) yang seketika berubah menjadi mimpi buruk. Tak hanya dihujami perasaan trauma semenjak pasien yang baru ditemuinya, Laura Weaver (Caitlin Stasey) melakukan bunuh diri tepat di depan mata kepalanya sendiri. Kejadian mengerikan tersebut pun kemudian disusul dengan berbagai gangguan gaib sekaligus penampakan menakutkan yang hanya bisa dirasakan dan dilihat oleh Rose. Dari hanya alarm rumah yang tiba-tiba berbunyi hingga orang-orang tersenyum aneh enggak wajar. Pertanyaannya adalah apakah semua nyata atau hanya ada di pikirannya Rose saja alias halusinasi belaka disebabkan kurang tidur?

(more…)

Inang (2022)

Dengan kekayaan sumber daya folklore dan kultur yang melimpah di Indonesia, memang sangat disayangkan ketika kebanyakan film horor Indonesia justru seperti mentok pakai cerita yang itu-itu saja, dengan konten yang variasinya sebatas mempertontonkan setan dan penampakan. Jadi, pada saat seorang Fajar Nugros muncul bersama “Inang”-nya, gue pun otomatis berdiri menyambut sambil menebarkan kembang tujuh rupa. Mukjizat adalah kata yang tepat untuk mewakili apa yang bakal dihadirkan oleh “Inang”, sebuah film horor yang tak sekedar berbeda karena mau mengangkat tradisi rabu wekasan, tapi juga bisa dibilang terlampau nekat “jualan” horor non hantu-hantuan di jaman dimana yang laris itu filmnya mesti ada genderuwo. Meski nantinya terdapat kekurangan disana sini, “Inang” menurut gue tetap patut untuk diberikan apresiasi yang tinggi atas jasanya membangkitkan lagi jenis horor tak populer.

(more…)