Image

Short Review ‘Surat Dari Praha’


Angga Dwimas Sasongko memang sutradara yang jago menyampaikan “rasa” di setiap filmnya, ‘Surat Dari Praha’ lagi-lagi membuktikan soal itu. Apa yang dilihat dan apa yang dirasakan sama-sama kompak bilang “indah”. Seperti cinta yang katanya indah, begitupun ‘Surat Dari Praha’. 

Skripnya cantik sekaligus juga sederhana, hadirkan karakter-karakter dengan latar belakang menarik. Mereka tak hanya menyatu dengan cerita tapi juga tempat yang mereka pijak, apartemen, bar, teater, bahkan jalanan Praha. 

Julie Estelle dan Tio Pakusadewo tampilkan akting mempesona dengan suguhan chemistry yang begitu manis. Semua dikemas dengan arahan Angga yang terasa istimewa, sejak menit awal hingga akhir. Bravo Angga!

★★★★☆

Image

Short Review ‘The Boy’

‘The Boy’ menawarkan premis dan misteri yang menarik, menunggu untuk ditebak-tebak dan dibongkar, didukung penampakan boneka yang creepy dan suasana rumah yang tidak mengenakan sekaligus membuat tak nyaman. Sayangnya, ‘The Boy’ seakan tak mampu memaksimalkan tiga poin menarik tersebut untuk menguatkan rasa cekam dan tingkatkan tensi ketegangan ke dalam filmnya. Menjanjikan di awal, berlanjut bikin ngantuk di tengah durasi dan menggelikan di penghujung film. Konsep ngehe-nya pun kemudian disia-siakan, Alhasil ‘The Boy’ hanya akan jadi film horor yang mudah untuk terlupakan begitu keluar dari bioskop, well kecuali wajah Brahms si boneka yang “lugu” itu.

Image

Terlepas elemen romansa remaja yang kurang cocok sama gw, Senior punya konsep berbeda yang jadi daya pikatnya, termasuk suguhan horornya. Konsep Wisit Sasanatieng tentang hantu di Senior itu menarik, caranya menakut-nakuti “lucu” dengan penampakan yang aneh-absurd-watdefak. Senior memang bukan tipikal horor yang bakal bikin ketakutan sampe baca ayat kursi, ada seremnya tapi lebih banyak kocak. Menghibur!

Image

Review singkat untuk ‘Ngenest’ yang disutradarai oleh Ernest Prakasa.


‘Ngenest’ tak sekedar punya bahan lawakan menggelitik, tapi juga mampu ditampilkan apa-adanya, tanpa terasa dibuat-buat dan dipaksa lucu. Formula komedinya universal, jadi siap layani beragam tipe penonton dan selera humornya. Ini yang membuat ‘Ngenest’ berbeda dari film komedi sejenis, filmnya nga egois. Walau joke-nya terkadang tak tepat sasaran, secara keseluruhan ‘Ngenest’ memang patut ditertawakan. Pas lagi lucu, lucu banget! Terhibur! Tukang cilok, kang bajaj, supir angkot dan orang gila yang kencing sembarangan adalah beberapa kengehean di ‘Ngenest’. Anjing kocak! (3.5/5)