Birds of Prey, Kiat Cepat Move On Dari Mantan Ala Harley Quinn

Birds of Prey, Kiat Cepat Move On Dari Mantan Ala Harley Quinn


Meski isi otaknya ancur binti gesrek, berstatus partner in crime dari pangeran kejahatan, biang keladi keonaran dan demennya berantem, tapi seorang Harley Quinn tetaplah cewek rapuh dibalik kebrutalannya. Bisa nangis, bisa patah hati, bisa menggalau, jangankan Harley Quinn, toh Murni si Ratu Ilmu Hitam aja bisa nangis tujuh hari tujuh malam setelah disakiti lelaki pujaan (meski abis itu balik lagi neluh orang hahaha). Harley Quinn tetaplah manusia, dan Birds of Prey memanusiakan dirinya.

Klo kata Vanesha Prescilla, biar cepat move on dari mantan, kita mesti sok sibuk, melakukan banyak aktivitas, melukis, belajar musik, supaya alihkan perasaan yang bikin enggak inget-inget lagi sama si doi. “Sok sibuk” itulah yang diperlihatkan Harley Quinn di Birds of Prey, meski caranya tak pantas ditirukan oleh siapapun. Nyeleneh dan berantakan, semrawut dan kacau, Harley Quinn punya caranya sendiri untuk bisa melupakan kenangan indah bersama Joker, termasuk miara Hyena. Ngepet.

Birds of Prey ibarat nembakin shotgun ke kepala Harley Quinn dan isi otaknya berhamburan kemana-mana, seperti itulah penceritaan film arahan Cathy Yan ini, “berhamburan kemana-mana” sampai terkadang gue engga ngerti sedang nonton film apaan. Tapi dibalik ceritanya yang ngawur (maklumi dan bodo amat), Birds of Prey tetaplah tontonan yang bakal ngajak elo buat bersenang-senang dengan banyaknya aksi-aksi akrobatik yang bet-es maderfaker, diiringin soundtrack menghentak seger.

Untuk urusan akting, Margot Robbie seperti dilahirkan untuk memerankan Harley Quinn, gila, cerewet, sekaligus menggemaskan. Kegilaan itu pun tidak berhenti di lakon-lakonnya, tetapi juga menular ke sisi teknikal Birds of Prey, khususnya ketika Matthew Libatique menghajar mata gue dengan pengambilan gambar yang edan. Meski beberapa kali nguap, gue enggak bisa bohong, Birds of Prey menghibur, hiburan yang menyenangkan, keluar bioskop senang sambil HAHA..HAHA.

Mangkujiwo, Film Horor Sakit Dengan Cerita Berbelit-Belit

Mangkujiwo, Film Horor Sakit Dengan Cerita Berbelit-Belit


“Mangkujiwo” yang artinya kurang lebih menguasai jiwa, jika gue tidak salah mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Nyi Kenanga (Djenar Maesa Ayu), punya potensi menjadi horor yang beda dari yang lain, mengekor apa yang udah dilakuin “Kafir Bersekutu dengan Setan” di tahun 2018 lalu, yang sama-sama disutradarai oleh Azhar Kinoi Lubis. Jika horor lokal umumnya manfaatkan penampakan hantu yang bertubi-tubi untuk meneror penonton, “Mangkujiwo” justru meneror tanpa hantu sejak awal.

“Mangkujiwo” memilih pendekatan yang membuat penonton merasa menjijikkan atau bahkan merangsang perut mual. Yah, sambil menyuapi penontonnya dengan penceritaan yang fokus pada balas dendam Brotoseno (Sujiwo Tejo) kepada Cokrokusumo (Roy Marten), nantinya gambar-gambar “menggiurkan” bakal bergantian muncul di layar, berdampingan dengan plot yang sejujurnya semakin membosankan. Storyline seakan dipaksakan untuk rumit, dengan cara bercerita yang berbelit-belit.

Mungkin “Mangkujiwo” bisa lebih menyenangkan ditonton, apabila isi keseluruhan durasinya hanya adegan-adegan disturbing selama dua jam penuh, tidak perlu ada cerita sama sekali. Toh, gue tidak lagi peduli dengan cerita semenjak karakter Samuel Rizal dimunculkan, gue tidak masalah dengan alurnya yang maju-mundur, tapi caranya mengurutkan dari babak ke babak membuat gue tidak nyaman. Jika Kanti menderita karena disiksa oleh Brotoseno, gue ikut menderita karena disiksa cerita.

Gue mengapresiasi treatment horor yang meneror dengan gambar-gambar disturbing, sadis dan berdarah-darah, sekaligus membenci “Mangkujiwo” dengan caranya menuturkan cerita. Padahal film ini memiliki beberapa nilai positif, termasuk akting, khususnya Asmara Abigail yang memerankan perempuan tidak waras yang dijejali oleh dendam. Karakter Kanti adalah satu-satunya alasan kenapa gue bisa survive melewati “Mangkujiwo”, kita relate, sama-sama disiksa dan pergi dengan kebencian.

Akhir Kisah Cinta Si Doel, Pamitan Berbuah Senyum Kagak Ikhlas

Akhir Kisah Cinta Si Doel, Pamitan Berbuah Senyum Kagak Ikhlas


Di salah-satu episod ‘Si Doel Anak Sekolahan’ ada adegan dimana Mak Nyak ngobrol ama anaknye yang keliatan ngelamun tiduran di bangku bambu yang dulu jadi singgasananya Babe Sabeni. Mak Nyak bingung liat Doel-Sarah-Zaenab, bisa akur padahal sama-sama demen ama anaknye, Mak Nyak seneng ama keduanye, Zaenab masih sodara dan temen Doel dari kecil, Sarah perhatian ame Doel dan keluarganye. Omongan Mak Nyak kayaknye malah bikin Doel makin galau, klo gue jadi Doel, gue juga bakal galau.

Kegalauan yang akhirnya tidak tuntas hingga berpuluh-puluh episod. Setelah 27 tahun, Doel “dipaksa” kembali memilih, Sarah atau Zaenab. Mungkin #AkhirKisahCintaSiDoel nantinya bakal memberikan kepastian, apakah Doel memilih balikan sama Sarah, orang yang dulu pernah nubruk opletnya sekaligus membentur hatinya, atau Zaenab, temen masa kecil yang terikat ucap janji perjodohan oleh orang tua. Siapapun yang dipilih, gue enggak mau ikut campur, karena gue lebih galau mikirin nasib Bang Mandra.

Iye, klo ada yang namanya alternate universe, gue ngebayangin Bang Mandra yang akhirnya bisa nyanyik killing me softly, killing me softly, killing me softly sekarang, bareng ama kekasih hatinye, Munaroh. Setelah gagal dua kali ngelamar Munaroh, setelah dua kali nerima surat yang bikin Bang Mandra sedih, gue kira #AkhirKisahCintaSiDoel bakal kasih keadilan yang setimpal buat nasib Bang Mandra, tapi lagi-lagi harapan itu digantung, mirip jemuran basah yang enggak kering-kering.

Klo AADC aja punya Milly & Mamet, mungkin Si Doel bisa bikin Mandra & Munaroh, supaya semua adil, enggak cuman Atun yang dikasih modal salon trus Doel yang dibeliin motor ama Engkong, giliran Bang Mandra juga mesti senang. Bodo amat jadi ngelantur, ketimbang gue kesel ama #AkhirKisahCintaSiDoel yang dipaksa buru-buru untuk tuntas, tapi ninggalin rasa enggak puas, ada senyum tapinye ada perasaan enggak ikhlas. Meski tetep bisa hadirkan tawa, suka, air mata dan juga nostalgia.

Sabar aje deh, klo kata Mak Nyak.

1917, Mahakarya Sinema Persembahan Sam Mendes

1917, Mahakarya Sinema Persembahan Sam Mendes

Ketika kata “taik” sudah keluar dari mulut beberapa kali, padahal film belum sampai 5 menit, dari situ gue tahu kalo Sam Mendes sudah sukses membuat film bagus. Sejak detik pertama ‘1917’ emang udah memaku kedua bola mata gue untuk menatap lurus ke layar, seperti kena guna-guna sihir ilmu hitam. Tapi ini bukan perbuatan dukun santet atau penyihir bertudung lancip, segala ilusi yang nantinya gue tatap selama dua jam ke depan adalah hasil ciptaan si Roger Deakins, sang Master of Light & Shadow.

‘1917’ adalah keajaiban sinema, keajaiban inilah yang membuat gue rindu akan sinema, rindu dibuat takjub layaknya menonton sulap Pak Tarno dengan mantra ajaib bim salabim jadi apa prok-prok-prok. “Taik, gimana caranya?” atau “Anjing, kok bisa!” muncul bergantian seiring gambar demi gambar di film ini mengajak gue semakin dalam, menyeret gue merasakan sebuah horor, sebuah mimpi buruk. Kebrutalan dan kengerian perang yang tervisual realistik, hingga nafas pun terasa tercekik.

Sam Mendes tidak sedang membuat film perang berskala Saving Private Ryan-nya Steven Spielberg, tapi percayalah daya hantamnya begitu maksimal mengena, meski tanpa bam-bim-bum-jedar-jedor dimana-mana. ‘1917’ menurut gue diperlakukan amat personal, film perang yang terasa begitu dekat, seperti gue benar-benar mengikuti Blake dan Schofield dari belakang punggung mereka, melewati segala macam bahaya, dari lorong gelap sempit penuh jebakan hingga jalanan kota yang porak-poranda.

‘1917’ memberikan pengalaman sinematik yang komplit, tidak saja datang dari sisi teknikal yang maha dahsyat–khususnya pergerakan kamera yang membuat film ini terasa seperti satu kali pengambilan gambar yang panjang, tapi juga datang dari George MacKay dan Dean-Charles Chapman yang berlakon luar biasa, hingga gue berhasil diyakini semua di film ini adalah betulan perang. Dari apa yang nantinya terlihat dan terdengar, ‘1917’ telah hadirkan perjalanan tak terlupakan, 2 jam yang mendebarkan.

Bad Boys for Life, Nostalgila Bersama Mike dan Marcus

Bad Boys for Life, Nostalgila Bersama Mike dan Marcus


Bad Boys For Life, emang bukan film action yang great-great amat, segala dar-der-dor-nya hanya bonus seru-seruan-nga-berotak yang menyenangkan. Meski bukan lagi disutradarai oleh Michael “Bayhem” Bay (fyi, dia sempet nongol jadi cameo di film ini), tapi sederet aksi-aksi yang disiapkan Adil El Arbi dan Bilall Fallah tetap mampu hadirkan kegilaan, bahkan di beberapa adegan kejar-kejaran dan tembak-tembakannya tampak sengaja menyontek ciri khas Bay, lengkap dengan slow-motion-lebay-tapi-keren ala Bay.

Apalah artinya adegan meledak-ledak-adu-tembak tanpa bacotan Mike & Marcus, ibarat mau bikin indomie tapi pas buka bungkusnya bumbunya enggak ada, yah mening kagak jadi makan mie. Gitulah, interaksi antara Will Smith dan Martin Lawrence emang micin di film yang udah direncanakan sejak tahun 2008 ini, tanpa tektokan dialog penuh sumpah-serapah fak-fok-fuk sana-sini, Bad Boys For Life mungkin akan jadi film “anak nakal” biasa aja. Mike dan Marcus, ledek-ledekan mereka, itulah atraksi paling utama.

Serasa bertemu temen lama, sudah pasti Bad Boys For Life hadirkan sebuah nostalgia, khususnya bagi mereka yang emang demen sama dua predesesornya. Setelah 17 tahun, seneng rasanya bisa ketemu lagi sama Mike dan Marcus, bisa ketawa bareng, ngetawain taiknya mimik si Martin Lawrence, serius nih orang nga usah ngomong juga udah kocak. Eh tapi Bad Boys For Life bukan sekedar ngasih cerita lucu untuk ditertawakan doang, porsi dramanya pun di luar dugaan cukup mengena, untuk ukuran film yang isinya becandaan, becandaan dan becandaan.

Ketika tiba saatnya buat serius, Bad Boys For Life emang beneran keliatan serius, skripnya bukan melulu berisi barisan kalimat yang menggelitik, tapi juga masih sempet-sempatnya hadirkan eksplorasi karakter mendalam yang bikin dahi mengkerut-terkejut. Nambahin level kepedulian buat Mike dan Marcus, hingga kita pengen banget kepalin tangan trus ngajak mereka untuk tos pake tinjuan (apalah namanya itu). Jangan lupakan juga betapa seriusnya Adil El Arbi dan Bilall Fallah untuk kasih jagoan kita musuh yang sepadan, bikin Bad Boys For Life makin tidak membosankan meski berdurasi panjang. Ride Together. Die Together.