Qorin (2022)

Kelemahan film Indonesia apapun genre-nya, termasuk juga horor adalah penceritaannya yang oleh pembuatnya kurang diperhatikan, apakah penonton akan bisa menikmati atau malah berakhir dibuat jenuh. Seperti sebuah lingkaran setan, kesalahan yang sama akan selalu terulang di film berikutnya seolah tak ada yang mau memperbaiki. Entah kenapa, film lokal kita tuh kebanyakan terlalu egois dalam memilah mana materi yang harusnya jadi prioritas untuk diceritakan, dan bagian yang sekiranya enggak diperlukan lebih baik dibuang. Namun praktiknya semua isu yang ada biasanya akan dijejalkan, meski durasi sudah penuh sesak oleh beragam plot serta beban pesan moral, alhasil tidak ada ruang bagi karakternya untuk sekedar “bernafas” apalagi menyampaikan ceritanya. Makanya tak heran alih-alih diyakinkan supaya peduli dengan orang-orang di dalam filmnya, tapi karena ceritanya malahan sibuk membahas omong kosong, imbasnya antara penonton dan karakter jadi nga kenal, ujungnya bodo amat nantinya (misalkan) ada yang digondol setan atau tiap malam diganggu siluman.

(more…)

Keramat 2: Caruban Larang (2022)

Setelah satu dekade lebih, siapa yang dapat menyangka kalau tahun ini kita dihadiahkan sebuah sekuel dari film horor yang menurut gue secara personal adalah salah satu yang teranjing. Meskipun sebetulnya jauh di lubuk hati terdalam, ‘Keramat’ seharusnya enggak memerlukan kelanjutan, cukuplah kisahnya berhenti ketika Migi, Poppy dan Sadha pada akhirnya (selamat) keluar dari dimensi gaib. Dengan format penceritaan serta pemilihan gaya visualnya yang mengadopsi apa yang dilakukan oleh predesesornya, ‘Keramat 2: Caruban Larang’ yang masih setia bersama subgenre horor found footage ini gue akuin memiliki sebakul potensi, apabila di-tritmen dengan benar setidaknya bakal mampu jadi tontonan yang tidak mengotori “kesakralan” film pertamanya. Sebagai fans, gue emang menginginkan ‘Caruban Larang’ jadi sebuah pertunjukkan horor yang tidak sekedar bisa dinikmati, tetapi juga bikin gue ngompol dan malemnya kagak nyenyak tidur sampai pagi.

(more…)

Sri Asih (2022)

Bukan perkara yang mudah untuk mengajak penonton Indonesia datang ke bioskop buat nonton film superhero lokal, apalagi setelah layar sinema kita selama bertahun-tahun ini jadi medan pertempuran antar dua semesta jagoan terbesar, Marvel melawan DC. Butuh usaha yang lebih hardcore untuk ngeyakinin orang +62 bahwa film adiwira buatan negeri sendiri juga mampu bersaing dengan ‘Thor’ dan pahlawan-pahlawan super lainnya yang diimpor dari Hollywood. Untuk mewujudkan ambisi tersebut, niat “mulia” doang menurut gue tidaklah cukup, kekuatan konsep cerita, kemantapan esekusi serta kesiapan sumber dana adalah penyokong utama yang engga boleh dihiraukan bagi siapapun yang punya keinginan menghidupkan tokoh-tokoh sakti dari komik nusantara. Bujetnya ada, namun tak didukung penceritaan yang matang dan diperparah oleh implementasi adegan yang payah, hasilnya bisa terlihat di ‘Satria Dewa: Gatot Kaca’ yang gagal manfaatkan potensi besarnya untuk suguhkan film jagoan super made in Indonesia yang bisa kita kagumi.

(more…)

BARBARIAN (2022)

Bermodal pernah melihat cuplikan trailer-nya sekali, gue beruntung tidak berusaha untuk lebih mencari tahu tentang apa sebetulnya horor garapan Zach Cregger ini. Keputusan tepat yang pada akhirnya nanti gue syukuri, karena ‘Barbarian’ adalah spesies tontonan yang sepatutnya harus dinikmati tanpa tahu apapun isinya. Dengan premis yang dimulai dengan dua orang tak sengaja (atau emang ada seseorang yang jahil) bertemu di rumah yang mereka sewa, kemudian berujung jadi mimpi buruk yang mengancam nyawa. Awal durasi ‘Barbarian’ akan terasa seperti horor yang sering gue santap, bahkan gue sudah sok pintar menebak-nebak bakal ada scene faktap, namun ternyata kesotoyan sekaligus kesiapan mental gue tetap berhasil dikoyak oleh sederet adegan-adegan unpredictable yang bikin rahang gue kayak dipaksa dibuka memakai linggis untuk dibiarkan celangap.

(more…)

Qodrat (2022)

Meskipun awalnya tampak memprihatinkan, sinema horor Indonesia tahun ini ternyata tidak sesuram yang gue bayangkan, apalagi setelah semester keduanya dibuka dengan kemunculan hantu kepala buntung ‘Ivanna’ yang begitu menyenangkan, lalu disusul film sekuel paling ditunggu sejagat meta fisika, yaitu ‘Pengabdi Setan 2: Communion’. Ngak berhenti sampai di Bunda Raminom, karena sehabis itu tayang ‘Jailangkung Sandekala’ yang anying dan ‘Inang’ yang membawakan jenis horor tanpa setan tetapi masih sukses bikin kita merinding. Senyum gue pun makin mengembang layaknya adonan donat yang dimasukkan ke dalam oven, tatkala sapaan salam dari Marsha Timothy yang kerasukan seperti menyambut para penggemar horor untuk kembali bersenang-senang bersama suguhan horor yang berbeda. ‘Qodrat’ yang digarap oleh Charles Gozali ini nantinya tak hanya akan terbalut unsur relijius yang bikin gue inget kata “tobat”, namun juga dioplos dengan adegan-adegan action yang hebat.

(more…)