Ngeri-Ngeri Sedap (2022)

Tak ada keluarga yang sempurna, pasti ada aja ribut-ributnya, pasti ada aja masalahnya macam Pak Domu (Arswendy Beningswara Nasution) sama anak-anaknya. Ingin ketiga putranya yang merantau ikut mau bapaknya malah bikin keharmonisan mereka enggak lagi terasa manis selama bertahun-tahun. Domu (Boris Bokir Manullang) si yang paling besar maunya menikah dengan perempuan Sunda, tapi bapaknya kekeuh ingin anaknya kawin sama yang satu suku. Gabe (Lolox) yang lulusan sarjana hukum malah bekerja sebagai pelawak, tidak suka bapaknya, mau anaknya jadi hakim ataupun jaksa. Ada lagi Sahat (Indra Jegel) namanya, setelah lulus kuliah justru lebih betah di Jogya ketimbang pulang mengurus orang tua. Satu-satunya yang tersisa di rumah hanyalah Sarma (Gita Bhebhita Butar-butar), si anak perempuan kesayangan yang kerja sebagai PNS.

(more…)

The Doll 3 (2022)

Sudah mau pertengahan tahun, tapi belom ada satupun horor lokal yang bener-bener memuaskan dahaga gue yang haus dengan tontonan setan-setanan menyegarkan dan menakutkan. Bicara kuantitas, kita memang bisa dibilang tidak pernah kekurangan stok film horor, dalam sebulan minimal bakal ada 1 atau 2 penghuni alam gaib yang “mampir” terus nangkring di jadwal “sedang tayang” bioskop. Hingga akhir Mei saja, jika enggak salah hitung jumlahnya sudah 10 film horor, termasuk yang sempat gue tonton seperti: ‘Teluh’, ‘Iblis Dalam Kandungan’, Menjelang Magrib’, ‘Oma The Demonic’, ‘KKN di Desa Penari’ dan ‘The Doll 3’ yang sekarang akan gue review. Meskipun berhamburan aneka setan, dari yang berwujud mirip sonic paska terdampak ledakan gas 3 kilogram, hingga siluman ular yang lihai menggoda sekaligus berjoget, secara kualitas penceritaan serta konstruksi penampakan, film-film tersebut menurut gue berstatus memprihatinkan.

(more…)

Srimulat: Hil Yang Mustahal (2022)

Setelah ‘Finding Srimulat’ garapan Charles Gozali yang tayang pada 2013 silam, secara personal gue tentu saja senang grup lawak legendaris yang dikomandani Teguh Slamet Rahardjo ini sekali lagi diboyong ke bioskop, dalam wujud aktor dan aktris yang nantinya dipermak untuk tak hanya serupa wajahnya, tetapi juga dibuat mirip tingkah serta cara bicaranya dengan Asmuni, Nunung, Tarzan, Basuki, Gepeng, bahkan Kabul alias Tessy. Lewat ‘Srimulat: Hil Yang Mustahal’, mereka yang mengenal sekaligus tumbuh bersama candaan-candaan khas kelompok pelawak yang didirikan pada tahun 50-an ini tak saja akan diajak untuk nostalgia, tapi diingatkan lagi betapa kita merindukan dibuat tertawa oleh guyonan mereka, termasuk aksi mata kecolok yang melegenda itu. Bagi yang tak tahu Srimulat, film garapan Fajar Nugros ini adalah kesempatan emas untuk mengenal kehebatan Timbul dan kawan-kawan ketika melawak. Meski bukan orang aslinya, tetapi semangat dan nyawa Srimulat sudah kayak merasuki sepenuhnya ke dalam lakon yang diperankan Bio One, Ibnu Jamil, Teuku Rifnu Wikana, Erick Estrada dan pemain lainnya.

(more…)

Doctor Strange in the Multiverse of Madness (2022)

Materi DOCTOR STRANGE yang amat kental dengan unsur supranatural memang seperti membuka portal bagi sutradara-sutradara yang biasa nanganin film tentang alam gaib untuk menyeret MCU masuk ke ranah horor, potensinya memang ke arah sana, tontonan superhero tapi dengan bumbu kegelapan, satu payunglah kayak “The Crow”, “Hellboy” dan “Blade”. Maka tidak heran apabila pada film perdananya DOCTOR STRANGE, Marvel kemudian merekrut Scott Derrickson, orang yang bertanggung jawab membuat gue jadi traumatik sampai sekarang berkat “Sinister” dan “The Exorcism of Emily Rose”. Hadirnya Scott jelas membawa “gangguan” ke dalam sinematik universe-nya Marvel, tidak hanya pada gaya penuturan ceritanya, yang paling nantinya kelihatan adalah keseluruhan tone dan visualnya, gelap-gelap gimana gitulah. Meski nga horor-horor banget, setidaknya DOCTOR STRANGE memberikan perbedaan yang unik dan menarik di antara pahlawan pembela kebenaran MCU lainnya yang telah beraksi duluan, sekaligus juga menegaskan kalau Marvel bisa keluar dari zona nyaman.

(more…)

KKN Di Desa Penari (2022)

Setelah tersimpan dalam gudang selama 2 tahun, ‘KKN Di Desa Penari’ yang tertunda tayang karena pandemi akhirnya resmi rilis di 2022 ini, dengan status sebagai summer movie-nya Indonesia, alias “film lebaran”. Untuk kembali mengangkat momentumnya yang sudah agak pudar, meski tidak sampai 100% menurunkan animo penonton untuk menyaksikan film yang diadaptasi dari kisah yang pernah viral di media sosial beberapa waktu silam ini. Maka untuk meng-hype-kan sekaligus mengajak orang-orang, terlebih mereka yang memang doyan horor untuk berbondong ke bioskop, dibuatlah strategi untuk menayangkan versi uncut atau bebas sensor, berharap ketertarikan untuk nonton ‘KKN Di Desa Penari’ akan makin menanjak naik. Sebuah gimik yang menurut gue tidak berpengaruh signifikan pada peningkatan kualitas berceritanya, ataupun mengubah penilaian serta pandangan gue yang sudah menonton duluan versi teatrikalnya, karena uncut atau bukan, horornya tetap jelek.

(more…)