Yuni (2021)

Beberapa waktu lalu gue menonton film asal India, judulnya “Skater Girl”, tentang pemberontakan seorang gadis kampung demi kebebasan dan impiannya bersama papan seluncur tak hancur oleh kekangan rantai tradisi, yang nempatin perempuan hanya akan berakhir di dapur, sumur dan juga kasur. Sekali lagi sinema dijadikan medium untuk meneriakkan perlawanan, mewakili suara mereka yang “terlakban”. “Yuni” pun adalah karya gambar bergerak atas nama perlawanan, mengisahkan cewek penggemar warna ungu yang ingin melambung jauh terbang tinggi bersama mimpi, tapi terhempas oleh kenyataan dan tersungkur kembali ke daratan. Lewat film ini Kamila Andini seperti ingin menegaskan sulitnya hidup sebagai perempuan, sambil mengingatkan kita yang tidak mengalami, khususnya kaum lelaki, untuk lebih peduli.

(more…)

Mangkujiwo, Film Horor Sakit Dengan Cerita Berbelit-Belit


“Mangkujiwo” yang artinya kurang lebih menguasai jiwa, jika gue tidak salah mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Nyi Kenanga (Djenar Maesa Ayu), punya potensi menjadi horor yang beda dari yang lain, mengekor apa yang udah dilakuin “Kafir Bersekutu dengan Setan” di tahun 2018 lalu, yang sama-sama disutradarai oleh Azhar Kinoi Lubis. Jika horor lokal umumnya manfaatkan penampakan hantu yang bertubi-tubi untuk meneror penonton, “Mangkujiwo” justru meneror tanpa hantu sejak awal.

“Mangkujiwo” memilih pendekatan yang membuat penonton merasa menjijikkan atau bahkan merangsang perut mual. Yah, sambil menyuapi penontonnya dengan penceritaan yang fokus pada balas dendam Brotoseno (Sujiwo Tejo) kepada Cokrokusumo (Roy Marten), nantinya gambar-gambar “menggiurkan” bakal bergantian muncul di layar, berdampingan dengan plot yang sejujurnya semakin membosankan. Storyline seakan dipaksakan untuk rumit, dengan cara bercerita yang berbelit-belit.

Mungkin “Mangkujiwo” bisa lebih menyenangkan ditonton, apabila isi keseluruhan durasinya hanya adegan-adegan disturbing selama dua jam penuh, tidak perlu ada cerita sama sekali. Toh, gue tidak lagi peduli dengan cerita semenjak karakter Samuel Rizal dimunculkan, gue tidak masalah dengan alurnya yang maju-mundur, tapi caranya mengurutkan dari babak ke babak membuat gue tidak nyaman. Jika Kanti menderita karena disiksa oleh Brotoseno, gue ikut menderita karena disiksa cerita.

Gue mengapresiasi treatment horor yang meneror dengan gambar-gambar disturbing, sadis dan berdarah-darah, sekaligus membenci “Mangkujiwo” dengan caranya menuturkan cerita. Padahal film ini memiliki beberapa nilai positif, termasuk akting, khususnya Asmara Abigail yang memerankan perempuan tidak waras yang dijejali oleh dendam. Karakter Kanti adalah satu-satunya alasan kenapa gue bisa survive melewati “Mangkujiwo”, kita relate, sama-sama disiksa dan pergi dengan kebencian.