Losmen Bu Broto (2021)

Setelah agak nyasar dibawa berputar-putar oleh gps yang rada error, gue akhirnya bisa sampai juga di tempat tujuan, ‘Losmen Bu Broto’ begitulah menurut tanda papan kayu yang terpampang di luar. Gue berencana menginap semalam saja, sebelum nantinya beranjak melanjutkan perjalanan. Gue nga akan pernah lupa perasaan itu, perasaan hangat begitu pertama kalinya menapakkan kaki di Losmen yang masih mau bertahan dengan gaya tradisionalnya tersebut, nga hanya dari tampilan bangunannya saja, tapi juga secara keseluruhan konsepnya, mulai dari baju yang dikenakan karyawan hingga cemilan dan makanan yang disajikan pada tamu-tamu yang datang. Gue disambut ramah oleh pegawai perempuannya yang memakai kebaya, sambil menyodorkan layar tab yang berisi informasi kamar yang ingin gue pesan. Beberapa menit kemudian gue sudah berada di kamar, semua tertata rapih dan bersih, tak sabar untuk langsung terjun ke kasur bersprei putihnya supaya badan ini bisa istirahat sebentar.

(more…)

Sebelum Iblis Menjemput Ayat Dua, Lebih Bangsat dan Semakin Sesat


Ketika kebanyakan film horor lokal betah berada di zona nyaman, bermain hantu-hantuan cewek berambut panjang, jumpscare itu-itu aja dan juga penampakan kampungan, sinema perjurigan +62 emang butuh sutradara yang agak gila, bukan sekedar gila doang sih, tapi juga ngertilah dia mau bikin film kayak gimana, punya visi yang sama gilanya. Terima kasih kegelapan dan seisinya, kita masih diberikan sosok penyelamat, Timo Tjahjanto, yang setia ngasih kita tontonan horor yang menyesatkan.

Ayat kedua nantinya tak hanya melebih-lebihkan kesesatan yang sudah dikhotbahkan dari film pertama, tetapi juga menambahkan dosis kesenangan yang berlipat ganda di setiap babaknya. Apalagi sekuel ini punya lebih banyak karakter, yang artinya bakal lebih banyak adegan kematian tragis bersimbah darah yang siap bikin air liur menetes kayak anjing. Iblis-iblis laknat pun akan bahagia, karena mereka punya lebih banyak korban untuk dirasuki, ditaburi bedak rodeka kadaluarsa dan disirami oli bekas.

Klo engga inget lagi di bioskop, gue mungkin akan kayak Luthesa, lari-larian kesana kemari sambil headbanging dan berakhir gegulingan di lantai. Iya anjing! gue emang sesenang itu pas nonton, sensasi kesenangan berlebihan kayak gini hanya bisa gue rasain klo sedang berkunjung ke bulungan, saat ada di tengah moshpit dengan harum ketek basah semerbak. Bedanya, kali ini gue bukan dibuat seneng ama band-band metal, tapi oleh tingkah gemas iblis-iblis taik anjing haram jadah.

Ayat kedua adalah tontonan yang menyenangkan, kebrutalannya jelas mengasyikkan, tapi gue paling menyukai cara Timo munculin penampakan-penampakannya, tak terduga-duga dengan wujud yang engga wajar dan gerakan-gerakan liar. Bodo amat nantinya bakalan ada ayat ketiga, keempat ataupun kelima sekalipun, film seperti ini sangat dibutuhkan kok oleh sinema horor Indonesia, biar beragam, biar penonton punya pilihan, mau horor yang bikin bego atau yang bikin lo sesat. Panjang umur kegelapan.