Sebelum Iblis Menjemput Ayat Dua, Lebih Bangsat dan Semakin Sesat


Ketika kebanyakan film horor lokal betah berada di zona nyaman, bermain hantu-hantuan cewek berambut panjang, jumpscare itu-itu aja dan juga penampakan kampungan, sinema perjurigan +62 emang butuh sutradara yang agak gila, bukan sekedar gila doang sih, tapi juga ngertilah dia mau bikin film kayak gimana, punya visi yang sama gilanya. Terima kasih kegelapan dan seisinya, kita masih diberikan sosok penyelamat, Timo Tjahjanto, yang setia ngasih kita tontonan horor yang menyesatkan.

Ayat kedua nantinya tak hanya melebih-lebihkan kesesatan yang sudah dikhotbahkan dari film pertama, tetapi juga menambahkan dosis kesenangan yang berlipat ganda di setiap babaknya. Apalagi sekuel ini punya lebih banyak karakter, yang artinya bakal lebih banyak adegan kematian tragis bersimbah darah yang siap bikin air liur menetes kayak anjing. Iblis-iblis laknat pun akan bahagia, karena mereka punya lebih banyak korban untuk dirasuki, ditaburi bedak rodeka kadaluarsa dan disirami oli bekas.

Klo engga inget lagi di bioskop, gue mungkin akan kayak Luthesa, lari-larian kesana kemari sambil headbanging dan berakhir gegulingan di lantai. Iya anjing! gue emang sesenang itu pas nonton, sensasi kesenangan berlebihan kayak gini hanya bisa gue rasain klo sedang berkunjung ke bulungan, saat ada di tengah moshpit dengan harum ketek basah semerbak. Bedanya, kali ini gue bukan dibuat seneng ama band-band metal, tapi oleh tingkah gemas iblis-iblis taik anjing haram jadah.

Ayat kedua adalah tontonan yang menyenangkan, kebrutalannya jelas mengasyikkan, tapi gue paling menyukai cara Timo munculin penampakan-penampakannya, tak terduga-duga dengan wujud yang engga wajar dan gerakan-gerakan liar. Bodo amat nantinya bakalan ada ayat ketiga, keempat ataupun kelima sekalipun, film seperti ini sangat dibutuhkan kok oleh sinema horor Indonesia, biar beragam, biar penonton punya pilihan, mau horor yang bikin bego atau yang bikin lo sesat. Panjang umur kegelapan.

Sebelum Iblis Menjemput (2018)

Demi raja iblis dan keturunannya yang terlaknat hingga kiamat, demi setan dan anjing-anjingnya yang keparat, percayalah! wahai para pengagum darah, bahwa ‘Sebelum Iblis Menjemput’ adalah sebuah tuntunan menuju kenikmatan dan kebahagiaan.

Timo berikan sesembahan yang mengenyangkan perut-perut mereka yang lapar akan gambar-gambar brutal tak bermoral.

Babak demi babak yang membebaskan jiwa untuk bersenang-senang, menari bersama iblis-iblis kandarian yang ikut tertawa riang, sambil menyerukan puji-pujian kotor yang diulang-ulang.

Demi nanah dan muntahan hitam yang keluar muncrat dari mulut Lesmana, percayalah! ‘Sebelum Iblis Menjemput’ akan datangkan rasa gembira-suka-cita, menyaksikkan Pevita dan Chelsea berlumur lumpur, bersimbah darah, dan tampil segila-gilanya, bak hilang kewarasannya.

Pemuja ketakutan akan melompat kegirangan layaknya orang yang kesurupan, mereka yang mencari kengerian bakal bergidik sambil menghardik.

Terkutuklah! Demi Dia yang berwujud kambing bertanduk runcing, empat kepala tengkorak penuh belatung dan cacing bergelantung kupersembahkan. Aku hambamu.