Smile (2022)

Kalau pada 2014 silam ada ‘It Follows’ yang di balik bungkus horornya seperti kampanye terselubung soal bahaya pergaulan bebas dan penyakit kelamin. Nah, sekarang ‘Smile’ dapat giliran buat meningkatkan kesadaran penonton tentang kesehatan mental sambil nantinya menyelam ke kehidupannya Dokter Rose Cotter (diperankan Sosie Bacon) yang seketika berubah menjadi mimpi buruk. Tak hanya dihujami perasaan trauma semenjak pasien yang baru ditemuinya, Laura Weaver (Caitlin Stasey) melakukan bunuh diri tepat di depan mata kepalanya sendiri. Kejadian mengerikan tersebut pun kemudian disusul dengan berbagai gangguan gaib sekaligus penampakan menakutkan yang hanya bisa dirasakan dan dilihat oleh Rose. Dari hanya alarm rumah yang tiba-tiba berbunyi hingga orang-orang tersenyum aneh enggak wajar. Pertanyaannya adalah apakah semua nyata atau hanya ada di pikirannya Rose saja alias halusinasi belaka disebabkan kurang tidur?

(more…)

Savageland (2015)

Sebagai penggemar militan subgenre horor, mokumenter/found footage, rasanya sangat bahagia ketika menemukan film yang “wah, gue banget ini” alias bagus secara konsep dan esekusinya. Dengan begitu banyaknya film dokumenter bohong-bohongan di luar sana, bagaikan mencari jarum di setumpuk jerami kayaknya untuk akhirnya ketemu film yang anjing banget. Salah satu hidden gem tersebut adalah “SAVAGELAND”, film yang dirilis pada tahun 2015 dan ditulis sekaligus digarap keroyokan oleh 3 orang, Phil Guidry, Simon Herbert, dan David Whelan. Layaknya program acara di FOX CRIME atau HISTORY CHANNEL, kita nantinya akan dipaksa untuk percaya telah terjadi pembunuhan massal di kota perbatasan USA dan Meksiko, Sangre De Cristo. Hanya dalam semalam, populasi kota berubah jadi nol dari yang awalnya 57 orang, hampir semua dinyatakan meninggal dunia, kebanyakan mayatnya pun hilang dan sisanya cuma potongan tubuh berserakan. Apakah yang sebenarnya terjadi di tanggal 2 Juni 2011? Betulkah ini ulah psikopat?

(more…)

Rumah Kuntilanak (2022)

‘Rumah Kuntilanak’ mungkin seharusnya tak perlu direkam pakai kamera resolusi tinggi, karena meski gambar yang dihasilkan jernih, tapi tak sebanding dengan amat rendahnya niat menyajikan tontonan yang karcisnya itu layak untuk dibeli, bukannya justru menyesal mengeluarkan duit seharga dua liter minyak goreng. Dengan bahasa visual yang enggak berfungsi sama sekali dalam menyampaikan cerita, alanglah bijak jikalau syuting ‘Rumah Kuntilanak’ menggunakan kamera VGA 0.3 megapixel dari handphone era 2000-an aja. Toh bisa menghemat bujet dan menghindar dari yang namanya mubazir, lagian percuma bungkusnya yang cantik pun pada akhirnya tak mempengaruhi keseluruhan kualitasnya yang membuat kepala bagian belakang jadi sakit mirip pertanda kolesterol sedang naik. ‘Rumah Kuntilanak’ semestinya memberikan peringatan sebelumnya, setidaknya supaya gue bisa berjaga-jaga dengan bawa pereda nyeri untuk diminum tiap lima menit sekali.

(more…)

KKN Di Desa Penari (2022)

Setelah tersimpan dalam gudang selama 2 tahun, ‘KKN Di Desa Penari’ yang tertunda tayang karena pandemi akhirnya resmi rilis di 2022 ini, dengan status sebagai summer movie-nya Indonesia, alias “film lebaran”. Untuk kembali mengangkat momentumnya yang sudah agak pudar, meski tidak sampai 100% menurunkan animo penonton untuk menyaksikan film yang diadaptasi dari kisah yang pernah viral di media sosial beberapa waktu silam ini. Maka untuk meng-hype-kan sekaligus mengajak orang-orang, terlebih mereka yang memang doyan horor untuk berbondong ke bioskop, dibuatlah strategi untuk menayangkan versi uncut atau bebas sensor, berharap ketertarikan untuk nonton ‘KKN Di Desa Penari’ akan makin menanjak naik. Sebuah gimik yang menurut gue tidak berpengaruh signifikan pada peningkatan kualitas berceritanya, ataupun mengubah penilaian serta pandangan gue yang sudah menonton duluan versi teatrikalnya, karena uncut atau bukan, horornya tetap jelek.

(more…)

Scream (2022)

Masih ingat enggak kapan pertama kalinya nonton ‘Scream’ original? Jawabannya pasti bakal bermacam-macam nih, mungkin ada yang di bioskop (beruntungnya orang yang bisa nonton ‘Scream’ pertama di layar lebar ya, karena pada jaman itu gue masih terlalu ingusan buat kenal yang namanya bioskop, lagian duit jajan gue abis buat beli layangan kaya Atun). Mungkin juga ada yang nonton bertahun-tahun kemudian setelah filmnya rilis via format VCD, DVD, atau bahkan lewat laserdisc (anak sekarang tahu LD enggak yah hahahaha). Seinget gue dengan memori samar-samar, ‘Scream’ versi 1996 itu baru sempat nonton beberapa tahun kemudian ketika home video-nya sudah beredar dan disewakan di tempat-tempat penyewaan vcd dan laserdics pada waktu itu. Karena di rumah adanya pemutar LD, jadi kunjungan gue ke toko sewa movie yang berlokasi di depan gang enggak jauh dari rumah pun berujung dengan bawa film ‘Scream’ dalam bentuk cakram segede gaban hahahaha.

(more…)