Rumah Kuntilanak (2022)

‘Rumah Kuntilanak’ mungkin seharusnya tak perlu direkam pakai kamera resolusi tinggi, karena meski gambar yang dihasilkan jernih, tapi tak sebanding dengan amat rendahnya niat menyajikan tontonan yang karcisnya itu layak untuk dibeli, bukannya justru menyesal mengeluarkan duit seharga dua liter minyak goreng. Dengan bahasa visual yang enggak berfungsi sama sekali dalam menyampaikan cerita, alanglah bijak jikalau syuting ‘Rumah Kuntilanak’ menggunakan kamera VGA 0.3 megapixel dari handphone era 2000-an aja. Toh bisa menghemat bujet dan menghindar dari yang namanya mubazir, lagian percuma bungkusnya yang cantik pun pada akhirnya tak mempengaruhi keseluruhan kualitasnya yang membuat kepala bagian belakang jadi sakit mirip pertanda kolesterol sedang naik. ‘Rumah Kuntilanak’ semestinya memberikan peringatan sebelumnya, setidaknya supaya gue bisa berjaga-jaga dengan bawa pereda nyeri untuk diminum tiap lima menit sekali.

(more…)

KKN Di Desa Penari (2022)

Setelah tersimpan dalam gudang selama 2 tahun, ‘KKN Di Desa Penari’ yang tertunda tayang karena pandemi akhirnya resmi rilis di 2022 ini, dengan status sebagai summer movie-nya Indonesia, alias “film lebaran”. Untuk kembali mengangkat momentumnya yang sudah agak pudar, meski tidak sampai 100% menurunkan animo penonton untuk menyaksikan film yang diadaptasi dari kisah yang pernah viral di media sosial beberapa waktu silam ini. Maka untuk meng-hype-kan sekaligus mengajak orang-orang, terlebih mereka yang memang doyan horor untuk berbondong ke bioskop, dibuatlah strategi untuk menayangkan versi uncut atau bebas sensor, berharap ketertarikan untuk nonton ‘KKN Di Desa Penari’ akan makin menanjak naik. Sebuah gimik yang menurut gue tidak berpengaruh signifikan pada peningkatan kualitas berceritanya, ataupun mengubah penilaian serta pandangan gue yang sudah menonton duluan versi teatrikalnya, karena uncut atau bukan, horornya tetap jelek.

(more…)

Scream (2022)

Masih ingat enggak kapan pertama kalinya nonton ‘Scream’ original? Jawabannya pasti bakal bermacam-macam nih, mungkin ada yang di bioskop (beruntungnya orang yang bisa nonton ‘Scream’ pertama di layar lebar ya, karena pada jaman itu gue masih terlalu ingusan buat kenal yang namanya bioskop, lagian duit jajan gue abis buat beli layangan kaya Atun). Mungkin juga ada yang nonton bertahun-tahun kemudian setelah filmnya rilis via format VCD, DVD, atau bahkan lewat laserdisc (anak sekarang tahu LD enggak yah hahahaha). Seinget gue dengan memori samar-samar, ‘Scream’ versi 1996 itu baru sempat nonton beberapa tahun kemudian ketika home video-nya sudah beredar dan disewakan di tempat-tempat penyewaan vcd dan laserdics pada waktu itu. Karena di rumah adanya pemutar LD, jadi kunjungan gue ke toko sewa movie yang berlokasi di depan gang enggak jauh dari rumah pun berujung dengan bawa film ‘Scream’ dalam bentuk cakram segede gaban hahahaha.

(more…)

Makmum 2 (2021)

Di balik penampakan setan berulang lusinan kali yang sebenarnya memuakkan, ternyata ‘Makmum 2’ menyembunyikan pesan positif untuk jangan merusak hutan, mengingatkan gue dengan band eco-metal asal Perancis bernama GOJIRA, yang selalu menyusupkan tema lingkungan hidup dalam tiap lantunan kecadasannya. Gue mengapresiasi langkah tersebut, karena jarang sekali film Indonesia apalagi horor yang durasinya habis oleh aksi jumpscare, mau repot-repot memasukkan kepedulian terhadap lingkungan ke dalam skripnya. Well, setidaknya ada sisi baik yang bisa gue ingat selama duduk di bangku E8, selain berdoa mengharap ‘Makmum 2’ mau mengakhiri penceritaannya yang menyiksa. Meski sedikit lebih baik dari predesesornya yang mengenaskan, sekuel ini tetaplah eco horror yang gagal melaksanakan misinya untuk memberikan ketakutan, mengulang kesalahan serupa yang sudah ribuan kali dilakukan oleh kebanyakan film horor lokal.

(more…)