The Guest (2018)

Korea emang sableng kalau sudah bikin film yang berorientasi pada kekerasan, berdarah-darah dan menyangkut-pautkan dengan balas dendam, seperti ‘The Wailing’ (2016) yang gila itu misalkan. Kesablengan tersebut kemudian diwariskan pada konten-konten serialnya, sebut saja terakhir ada ‘The Kingdom’ dan ‘Strangers From Hell’. Namun dibandingkan dengan kedua serial yang bisa disaksikan di layanan streaming Netflix tersebut, secara pribadi gue mantab bilang kalau ‘The Guest’ lebih bangsat sih ya, gue lebih menyukai serial yang aslinya ditayangkan pada tahun 2018 silam di Korea sana.

Read more

Short Review ‘The Boy’

‘The Boy’ menawarkan premis dan misteri yang menarik, menunggu untuk ditebak-tebak dan dibongkar, didukung penampakan boneka yang creepy dan suasana rumah yang tidak mengenakan sekaligus membuat tak nyaman. Sayangnya, ‘The Boy’ seakan tak mampu memaksimalkan tiga poin menarik tersebut untuk menguatkan rasa cekam dan tingkatkan tensi ketegangan ke dalam filmnya. Menjanjikan di awal, berlanjut bikin ngantuk di tengah durasi dan menggelikan di penghujung film. Konsep ngehe-nya pun kemudian disia-siakan, Alhasil ‘The Boy’ hanya akan jadi film horor yang mudah untuk terlupakan begitu keluar dari bioskop, well kecuali wajah Brahms si boneka yang “lugu” itu.

Terlepas elemen romansa remaja yang kurang cocok sama gw, Senior punya konsep berbeda yang jadi daya pikatnya, termasuk suguhan horornya. Konsep Wisit Sasanatieng tentang hantu di Senior itu menarik, caranya menakut-nakuti “lucu” dengan penampakan yang aneh-absurd-watdefak. Senior memang bukan tipikal horor yang bakal bikin ketakutan sampe baca ayat kursi, ada seremnya tapi lebih banyak kocak. Menghibur!

‘The Forest’ terlihat lebih sibuk menyuruh Natalie Dormer lari-larian ketimbang memberi sajian horor setan-setanan yang layak disebut seram. Keangkeran hutan Aokigahara terkesan jadi sia-sia, karena ‘The Forest’ kurang bisa maksimalkan rasa cekam dan seramnya. 

Short Review ‘Kakak’ dan ‘Misterius’

‘Kakak’ bisa jadi horor yang efektif kalau saja caranya menakuti tak diiringi efek suara yang terlalu bising. Alih-alih seram, penampakan dan jump scare-nya malah menjengkelkan dan membuat kuping berdarah. Padahal ‘Kakak’ punya beberapa momen yang lumayan menakutkan, sayang filmnya tidak percaya diri ketika melepas horornya (2.5/5).

Durasi boleh sekejap tak sampai 90 menit, tapi ‘Misterius’ sukses bikin stress lewat atmosfer cekamnya yang menyesakkan dan berbagai penampakan yang sederhana namun begitu efektif. Walau ‘Angker’ masih bisa dibilang lebih baik, ‘MIsterius’ tetap film horor yang bangsat dalam menakuti, gw sampe sambil baca doa nontonnya (3.5/5).