Pengabdi Setan 2: Communion (2022)

Setelah selama 5 tahun menunggu, akhirnya gue bisa kembali bertemu Ibu. Sekarang tak lagi di rumah kecil seberang kuburan, tetapi bertamu ke komplek rumah susun di daerah Jakarta Utara dekat dengan lautan. Jikalau syarat-syarat untuk sebuah sekuel itu harus lebih besar, ‘Pengabdi Setan 2: Communion’ sudah memenuhi salah-satu kewajibannya. Selain nantinya diajak ke arena “permainan kejar-kejaran sama setan” yang lebih lebar, luas dan tinggi di bangunan berlantai kalau tak salah belasan, kita juga akan dikenalkan hadirnya karakter-karakter baru menemani Rini (Tara Basro) dan keluarganya, termasuk penghuni ikonik yang diperankan oleh Ratu Felisha dan seorang Ustad yang dilakonkan Kiki Narendra. Keduanya tak hanya bakalan berakting epik mengisi slot adegan-adegan bikin bergidik, tapi juga menurut gue punya peranan yang signifikan menjadikan horor berdurasi hampir dua jam ini lebih menarik, apalagi diselingi beberapa kelucuan cerdik yang bikin gue semakin lengah, alhasil bisa mudah untuk ditakut-takuti kelak oleh Joko.

(more…)

Perempuan Tanah Jahanam (2019)

Dengan judul semenarik ‘Perempuan Tanah Jahanam’, wajar jika gue berharap isinya memang jahanam. ‘Perempuan Tanah Jahanam’ memang kejam tapi tak sampai memancing mulut lalu mengumpat sumpah serapah belepot kata kotor.

Awalnya menjanjikan, lihat saja opening-nya hingga kita sampai di desa yang cocok dijadikan untuk lokasi syuting ‘KKN di Desa Penari’, tapi entah kenapa penceritaan berujung tak berkesan, terlebih paruh akhir yang bikin ingin gorok leher.

Susah payah menyeret penonton untuk nyemplung ke kubangan misteri penuh tanda tanya sampe otak mendidih. Tapi dengan mudah ambil jalan pintas untuk memberi jawaban, malah terlalu banyak penjelasan dengan cara yang tak terbayangkan bisa ada di film Joko Anwar (yah, ternyata memang bisa ada).

Nasi sudah jadi bubur, bubur sudah jadi belatung dilalerin. Momen Tara Basro nyender di pohon itu mungkin termaklumi klo gue sedang nonton film Mantovani. Penyelesaian yang justru membenamkan potensi film ini untuk seutuhnya jadi jahanam.

Separuh menggiurkan berlumurkan misteri yang sengaja menyesatkan, bertaburkan teka-teki membingungkan, berkabut atmosfer cekam menyesakkan. Eh, separuh kemudian menggelikan, mengerutkan kulit dahi, melunturkan ketertarikan. Kejam tapi tidak jahanam, mungkin seperempat jahanam.

Asmara Abigail keren sekali btw.