Don’t Look Up (2021)

Umat manusia diceritakan bakalan musnah akibat tubrukan komet seukuran gunung bukanlah kali pertama dimunculkan dalam premis sebuah tontonan. “Deep Impact” dan “Armageddon” sudah berhadapan lebih dulu dengan planet killer tersebut di tahun 90-an, bahkan tahun lalu ada film berjudul “Greenland” yang dibintangi Gerard Butler, berurusan dengan bongkahan batu dari luar angkasa yang juga sama-sama mau ancurin Bumi dan seisinya. Meski sumber bencana di “Don’t Look Up” serupa, dengan strategi penyelamatan yang terasa familiar, tingkat keseriusannya jelas berada di koridor yang berbeda. Ada nama orang gila tercantum sebagai pembuatnya, orang tak waras yang juga mengarahkan film-film sableng macam “Step Brothers”, “Talladega Nights: The Ballad of Ricky Bobby”, “The Other Guys” dan tentunya yang terlejen: “Anchorman: The Legend of Ron Burgundy”.

(more…)

Little Women, Harta Yang Paling Berharga Adalah Keluarga


Tidak seperti bibinya yang kaya raya, Jo March (Saoirse Ronan) dan keluarganya hidup tak bergelimang harta, tapi mereka bahagia dengan apa yang dipunya, mereka saling memiliki, itulah harta yang sebenarnya, tak ternilai harganya. Little Women nantinya memang akan banyak memberikan pesan moral (klo kata film kita), tidak hanya tentang arti keluarga, tapi juga kebaikan antar sesama manusia. Greta Gerwig menyampaikan semua itu tanpa sedikit pun terkesan menggurui, membiarkan penontonnya menyerap sendiri dari apa yang dilihat dari babak ke babak, selama 135 menit durasinya yang terasa sekejap.

Sejak awal kita menginjakkan kaki di kediaman keluarga March, tidak hanya kehangatan yang bisa dirasakan, tapi kebaikan penghuninya, keempat anak perempuan Laura Dern memang ceriwis luar biasa, kadang bisa berbuat nakal, namun Jo, Meg, Amy dan si kalem Beth adalah anak-anak yang baik hasil didikan orang tua yang baik pula. Little Women tidak akan banjir petuah-petuah bijak yang membosankan, tapi sekali lagi membebaskan penonton memetik sendiri apa-apa yang baik, tanpa dipaksa, apalagi terkesan seperti diceramahi.

Kedewasaan Meg, kelembutan Beth, kebaikan Amy (meski suka ceplas-ceplos-gemas), dan keberanian Jo, semua diturunkan dari orang tua mereka, orang tua sederhana yang terlihat membiarkan anak-anaknya tumbuh sesuai apa yang mereka inginkan, tidak dikekang, tidak banyak larangan. Anak-anaknya merdeka ingin jadi apapun, Meg ingin menikah, silahkan. Amy ingin ke Eropa, silahkan. Beth ingin di rumah aja main piano, terserah. Jo ingin menjadi penulis dan nga mau kawin pun dipersilahkan.

Greta Gerwig sudah membuat film yang istimewa, dari segi penceritaan hingga pesan-pesan yang ingin disampaikan. Memberikan kita tontonan luar biasa yang mudah disukai dengan karakter-karakter yang teramat gampang dicintai. Tanpa sadar, Greta Gerwig membuat kita seperti bagian dari keluarga March, suka dan duka dilalui bersama, menciptakan kenangan berharga yang membekas lama di dalam sini. Little Women membuat gue rindu keluarga, ingin cepat memeluk Mama di rumah.