Everything Everywhere All at Once (2022)

Menonton kegilaan ‘Everything Everywhere All at Once’ seperti otomatis menyeret otak gue kembali ke tahun 2010, tepatnya ketika menyaksikkan ‘Mutant Girls Squad’ tengah malam di “INAFFF” (Indonesia International Fantastic Film Festival). Kayak masterpiece buah karya Tak Sakaguchi, Noboru Iguchi dan Yoshihiro Nishimura tersebut, ‘EEAAO’ bakalan sangat cocok menjadi “headliner” di festival gokil yang sayangnya udah ngak ada. Film yang digarap dua orang sutradara sinting bernama Daniel ini ngak hanya bikin gue kemudian merindukan INAFFF, tapi juga mengingatkan lagi “kenapa” gue mencintai yang namanya sinema, salah-satunya yaitu duduk bareng penonton lain terus ngerasain pengalaman watdefak bersama dalam satu studio yang hampir penuh. ‘EEAAO’ berhasil melakukan itu, membuat seisi bioskop alami kerusuhan massal merespon konten enggak warasnya yang sensasional, tontonan multi semesta yang madness-nya nga tipu-tipu.

(more…)